Perpustakaan Kita

Just another WordPress.com site

“Manisnya Madu Kekekalan Kegiatan Dalam Mimpi Rohani”

p

 

Hare Krishna Hare Krishna

"Maha Mantram"

Kekasihku Tercinta

Mohon Dengarkanlah Kata-Kataku

Aku Memiliki Keinginan

Untuk Menjadi Satu Bentuk Dengan Dirimu

Junjunganku Yang Terkasih

Mohon Wujudkanlah Rupa Itu

Yang Memiliki Kelengkapan-Kelengkapan Seperti Ini

Dia Hendaknya Dipenuhi Suasana Hati Dan Perasaanku

Dia Harus Bertahan Dikedua Hati Kita

Engkau Berada Dihatiku Dan Aku Berada Dihatimu

Tetapi Dia Akan Berada Dihati Kita Berdua

Dia Pasti Mencurahkan Segala Karunia Kemujuran

Dengan Keceriaan Senda Guraunya

Dia Juga Harus Diresapi Oleh Perasaan Termulia

Dari Luapan Kebahagiaan Maha Agung

Mohon Wujudkanlah Diri Kita Berdua

Dalam Satu Rupa Yang Sedemikian Itu

Dua Pribadi Itu Di Nidhuvana

Ditemani Oleh Teman Gadis-Gadis Belia Disegala Penjuru

Terlelap Diatas Pembaringan

Nikmatnya Rasa-Rasa Rohani Yang Menyenyakkan

Dikala Malam Tiba Pada Akhirnya

Yang Berwajah Rembulan Terjaga

Menangis Dan Menangis

Dia Telah Menyaksikan Sebuah Mimpi

Kini Dia Mengungkapkannya Pada Kawan Tercintanya

Bangunlah-Bangunlah Wahai Kekasih

Bangunlah Jujungan Hidupku

Aku Memimpikan Hal Yang Tak Biasa Malam Ini

Dalam Mimpi Itu Aku Melihat Sebuah Sungai

Sangat Mirip Dengan Sungai Yamuna Kita

Divrindavan Ini

Ada Juga Tepiannya Yang Luas

Persis Seperti Pantai Yamuna

Ada Banyak Orang Yang Menari-Nari

Dengan Pandainya Ditempat Itu

Benar-Benar Sama Dengan Ketika Kita

Menari Bersama Para Gopi

Yang Tak Terhitung Banyaknya

Aku Melihat Banyak Orang

Memainkan Berupa-Rupa Alat Musik

Seperti Mridanga, Karatala, Dan Sebagainya

Juga Seperti Yang Kita Lakukan Divrindavan

Tapi Hal Yang Paling Menakjubkan

Yang Kulihat Dalam Mimpi Ini

Adalah Tampak Permata Diantara Yang Lahir Dua Kali

Seorang Brahmana Muda Berkulit Langsat

Dan Cemerlang Bagaikan Kilatan Petir

Dia Sedang Menari

Dan Dengan Kekuatan Tariannya Yang Luar Biasa Ini

Dia Menenggelamkan Seluruh Alam Semesta

Dalam Samudra Luapan Kebahagiaan

Cinta Kasih Yang Maha Murni

Sungguh Aku Melihat Pemuda Dalam Mimpiku

Terkadang Tiba-Tiba Berurai Air Mata Yang Mengalir Deras

Sambil Menari-Nari

Dia Lalu Berseru, Oh Krishna  Oh Krishna

Sambil Sungguh Meratap Terus Menerus

Kemudian Terkadang Dia Menghela Nafas Dalam-Dalam

Sambil Memanggil-Manggil

Oh Radha Dimanakah Dirimu

Lalu Dia Tersungkur Jatuh Ketanah

Tanpa Diduga Dia Berubah Menjadi Penuh Suka Cita

Bangkit Dan Mulai Menari Lagi

Demikianlah Tingkah Lakunya

Dikelilingi Oleh Rekan-Rekan Terkasihnya

Dia Menjatuhkan Seluruh Dunia

Mulai Dari Setangkai Rumput Yang Remeh

Sampai Brahma Yang Mulia

Kedalam Ratapan Penuh Perasaan

Melihat Sebuah Mimpi

Yang Maha Ajaib Dan Menakjubkan

Aku Menjadi Begitu Tersentuh Dan Kemudian Terbangun

Kecerdasanku Diombang-Ambingkan

Oleh Berbagai Kerumitan

Oh Aku Berkata Pada Diriku

Seorang Pemuda Berkulit Langsat

Dengan Tubuh Yang Begitu Indah

Menaklukan Ketampanan Dewa Asmara

Yang Berjuta Banyaknya

Dia Nampak Bagaikan Raja Segala Rasa Nikmat

Berupa-Rupa Sumber

Dari Berbagai Kenikmatan Yang Menggiurkan

Dia Senantiasa Dihiasi

Perasaan-Perasaan Penuh Kegembiraan

Seperti Derai Air Mata Dan Roma Yang Merinding

Menari Dan Menyanyi Dalam Kegilaan

Mabuk Rohani Yang Paling Agung

Oh Apakah Pemuda Brahmana Keemasan Ini

Adalah Kekasihku Sri Krishna

Tentu Saja Itu Dia

Karena Dia Lupa Saat Mengucapkan Radha Radha

Oh Apakah Itu Aku Sendiri

Bila Itu Aku Lalu Manakah Kekasihku

Atau Bila Itu Adalah Dia Yang Tercinta

Lalu Dimanakah Aku

Melihat Keindahan Yang Tiada Taranya Itu

Mataku Dibasahi Air Mata

Dan Pikiranku Berlari

Untuk Mendapatkan Dirinya Sekilas Lagi

Oh Rupa Itu Bagaikan Awan Hujan Yang Segar

Penyimpanan Rasa-Rasa Rohani

Yang Sungguh-Sungguh Nikmat

Aku Tak Dapat Melihatnya

Disini Dengan Mataku

Apa Alasannya Wahai Tuhanku Tercinta

Di Sini Divrindavan Ini

Aku Telah Banyak Melihat Dewa-Dewa

Dengan Empat Lengan Atau Lebih

Mereka Tak Pernah Mengganggu Pikiranku

Tapi Gauranga Itu Yang Keemasan

Telah Sepenuhnya Mencuri Hatiku

Beliau Kemudian Berkata

Sundariku Tercinta Wahai Gadis Belia Nan Cantik

Engkau Telah Mendapatkan

Penglihatan Akan Wujud-Wujudku Yang Lain

Seperti Narayana

(Tuhan Yang Maha Kuasa Junjungan Laksmi)

Begitu Pula Berbagai Penjelmaan

Seperti Nrisimha, Varaha, Dan Kurma

Dan Engkau Sama Sekali Tak Terkesan Melihatnya

Tapi Bagaimana Mungkin Brahmana Ini

Dapat Sedemikian Mempesonamu

Bagaimana Sampai Rasa Penasaran Ini

Muncul Dalam Pikiranmu

Wahai Cintaku

Yang Paling Menakjubkan Adalah

Siapakah Brahmana Misterius Ini Sesungguhnya

Tak Seorangpun Mengenal Rupa Berkulit Langsat

Yang Tengah Engkau Bicarakan Itu

Tetapi Aku Telah Mengambil

Bentuk Keemasan Yang Menakjubkan Itu

Karena Terhanyut Oleh Pesona Cintamu

Hanya Karena Cintamu

Bagaimanakah Kemuliaan Rasa Cintamu

Bagaimanakah Keluhuran Sifat Manismu

Apakah Sumber Bagi Kebahagiaanmu

Tiga Hasrat Keinginanku Yang Paling Berharga Ini

Yaitu Demi Mengetahui Jawaban Ketiganya

Tak Terkabulkan Divraja

Apalagi Yang Dapat Kukatakan

Batas Dari Yang Tak Terbatas

Tak Mungkinlah Dapat Dipahami

Setelah Memikirkan Dalam-Dalam

Aku Telah Memutuskan

Bahwa Selain Dalam Wujudmu

Bila Tidak Menerima Rupamu

Aku Takkan Dapat Merasakan

Kebahagiaan Itu Sama Sekali

Dengan Menerima Gemerlap Kilau

Perasaaan Suka Citamu Yang Tiada Taranya

Dan Membuat Cintamu Sebagai Guruku

Aku Akan Mewujudkan Diri Di Nadiya

Demi Memenuhi Keinginan Hatiku Terdalam

Aku Akan Terbebas Dari Segala Halangan

Aku Akan Dapat Melangkahi

Semua Rintangan, Kekangan, Dan Sangkalan

Dan Aku Akan Dapat Membahagiakan Sebebas-Bebasnya

Harta Cinta Kasih Yang Paling Membahagiakan

Kesetiap Penjuru Dan Sudut Alam Semesta

Dengarlah Keinginanku Wahai Gadis Jelita

Aku Akan Mengejawantahkan Cinta Kasih Vraja

Dan Bersama Seluruh Kawan-Kawan Gembalaku

Aku Akan Bermain Dikota Nadiya

Dengan Mempersatukan Kedua Wujud Kita

Menjadi Bentuk Yang Tunggal

Aku Akan Terus-Menerus Menyanyikan Nama Sucimu

Aku Takan Pernah Meninggalkan Vraja

Sungguh Karena Cinta Kasih Yang Murni

Tidak Akan Ditemukan Ditempat Lain Lagi

Jadi Dalam Sifat Perasaan Vraja

Dalam Suasana Hatinya

Aku Akan Penuhi Semua Keinginan Hatimu

Dengarkanlah Oh Tuhan Bagi Hidupku

Sungguh Engkau Katakana Kebenaran

Akupun Mengetahui Bahwa Mimpiku Adalah Nyata

Betapa Ajaibnya Rupa Yang Kulihat

Oleh Berlanjutnya Hubungan Kita

Kedua Rupa Kita Akan Manunggal

Sungguh Tak Mungkin Dapat Dipahami

Bagaimana Itu Bisa Terjadi

Bagaimana Engkau Akan Melepaskan

Mahkota Kemuliaanmu

Bagaimana Engkau Akan Menyembunyikan Serulingmu

Bagaimana Wujudmu Yang Gelap

Menjadi Terang Cerah

Oh Yang Terkasih

Kini Aku Mengetahui Semua Isi Hatimu

Tak Diragukan Lagi Engkaukah Itu

Brahmana Muda Keemasan

Yang Kulihat Dalam Mimpiku

Buktinya Engkau Tersenyum

Saat Mengungkapkan Kejadian Itu

Melalui Pendaran Permata Kausthubamu

Tetapi Karena Engkau Tidak Secara Langsung

Dan Jelas Memberitahuku

Bahwa Engkaulah Dia

Maka Aku Merasa Pula Bahwa Diriku Juga Dia

Dan Betapa Diri Kita Berdua Seciri Dengan Rupa Itu

Maka Tampak Sungguhlah

Bahwa Kita Berdua Manunggal Menjadi Satu

Dan Mewujudkan Dia Sedemikian Itu

Lebih Jauh Lagi Engkau Telah Membuat

Permata Kausthuba Bersinar-Sinar

Permata Yang Menjadi Perantara

Pertukaran Kasih Saying Kedua Belah Jiwa Kita

Dengannya Engkau Telah Memperlihatkan

Kejadian-Kejadian Yang Akan Dating Kepada Semua Roh

Inilah Tampaknya Bagaimana Caramu

Mewujudkan Penjelmaan-Penjelmaanmu

Beserta Seluruh Kekuatanmu

Sehingga Dipertunjukanlah Dirimu

Dan Seluruh Kegiatan Rohanimu

Dihadapan Setiap Roh

Dengan Demikian Engkau Tiada Hentinya

Menenggelamkan Seluruh Alam Semesta

Dalam Samudra Cinta Kasih Mahamurni

Yang Kebahagiaannya Tiada Tara

Dikatakan Pada Saat Upacara Pemberian Namamu

Sang Rshi Gargamuni

Memberi Tahu Ayah Anadaku

Bahwa Engkau Sebelumnya Telah Menjelma

Dengan Warna Putih Dan Merah

Sang Rshi Juga Berkata

Bahwa Kini Engkau Hadir Dengan Warna Kehitaman

Dan Kelak Engkau Juga Akan Hadir

Dengan Warna Kuning Dimasa Depan

Kini Aku Tahu Yang Dinyatakan Oleh Garga

Bukanlah Kebohongan

Jadi Demikian Pula Mimpiku

Adalah Benar Sungguh-Sungguh Nyata

Kini Tak Ada Kebimbangan Dalam Pikiranku

Ini Adalah Pewahyuan Yang Nyata

Engkaulah Sungguh-Sungguh Gauranga Itu

Brahmana Muda Yang Hadir Dalam Mimpiku

Mataku Terhalang Oleh Deburan Ombak

Curahan Air Mata Suka Cita Tiada Tara

Dalam Sebuah Mimpi

Aku Melihat Gauranga Kishora

Hari Demi Hari

Dia Bermain Riang Gembira Di Navadvipa

Bersama Para Hamba-Hambanya

Oh Sahabatku Apalagi Yang Dapat Kukatakan

Tentang Bagaimana Membahagiakannya Malamku Itu

Setiap Malam Aku Memimpikan

Wajah Yang Bagaikan Rembulan Dari Sri Gaurachandra

Semua Penghuni Kota Nadiya

Demikian Terguncang Bila Tak Dapat Melihatnya

Namun Begitu Mereka Dapat

Memandangnya Sekilas Saja

Segala Duka Cita Mereka Tersingkir Jauh-Jauh.

December 10, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

INSTRUMENTASI ELEKTRONIKA

INSTRUMENTASI ELEKTRONIKA

RINGKASAN :

Written By : I Ny. Dharma As.

Sensor Kecepatan / Sensor RPM

Tachometer umumnya menunjukan magnet permanent kecil dari generator dc.

Ketika generator diputar, generator menghasilkan tegangan dc berbanding lurus dengan kecepatan.

Gambar 1. Tachometer generator kecil magnet dc permanent.

Tegangan

umpan balik

Motor

Gambar. 1.a. Tachometer memberikan umpan balik tegangan kepengontrol yang profesionalo untuk kecepatan motor.

Kecepatan motor sering diukur dengan menggunakan sensor yang mengambil pulsa magnetis (induksi). Magnet dilekatkan pada poros, kumparanh kawat kecil dipasang dekat magnet, menerima pulsa setiap magnet lewat. Dengan mengukur frekuensi pulsa, kecepatan poros dapat ditentukan.

sensor pengambil megnetis        Koil pickup    Bagian kutub

Magnet permanen

N     S

Output sensor         0V                      pulsa magnetis

SENSOR PENYANDI (ENCODER SENSOR)

Sensor penyandi digunakan untuk mengubah gerakan linier atau putaran menjadi sinyal digital. Penyandi putaran memonitor gerakan putar dari alat.

Penyandi tambahan, mentransmisikan jumlah tertentu dari pulsa untuk masing-masing putaran alat.

Penyandi absolut, memperlengkapi kode binary tertentu untuk masing-masing posisi sudut alat.

PENGUKURAN ALIRAN

Prinsip kerja dari alat ukur aliran tekanan differensial disebut efek Bernauli :

Apabila cairan mengalir, tekanan P1 akan menjadi lebih besar disbanding dengan P2 dan perbedaan tekanan berbanding lurus dengan tekanan. Balon memuai sebanding dengan alilran. Apabila P1 lebih besar disbanding P2 inti pada LVDT akan bergerak kekanan. Apabla aliran terhenti tidak akan ada efek bernauli dan inti akan menjadi ditengah.

PENGGERAK ( ACTUATOR )

Penggerak dalam pengertian listrik adalah setiap alat yang merubah sinyal listrik menjadi gerakan mekanis.

Relai adalah alat yang dioperasikan dengan listrik yang secara mekanis mengontrol penghubungan rangkaian listrik.

SOLENOID

Adalah alat yang digunakan untuk mengubah sinyal listrik menjadi gerakan mekanis linier. Solenoid disusun dari kumparan dengan inti besi yang dapat bergerak. Apabila kumparan diberi tenaga, inti/jangkar akan ditarik kedalam kumparan.. besarnya gaya tarikan atau dorongan yang dihasilkan solenoid ditentukan dengan jumlah lilitan kawat tembaga dan besar arus yang mengalir melalui kumparan.

Arus kumparan untuk solenoid dc hanya dibatasi oleh tahanan kumparan. Dengan ditempatkan plunger, dorongan akan menjadi lebih besar dari yang dibutuhkan sehingga sering digunakan suatu kumparan tegangan parsial solenoid yang lebih kecil. Solenoid dc memiliki time constant (konstanta waktu), sebab induktansi kumparan memperlambat pemagnetan.

Kerangka dan plunger dari solenoid ac terdiri dari baja silicon tipis yang telah dibuat berlapis-lapis dan diberi pernis untuk mengurangi arus eddy current.

Batas kerja pada solenoid pada dasarnya adalah gaya, pukulan, siklus tugas, suhu dan daya. Pertimbangan yang lain adalah ukuran, pemasangan, tempat pemasangan, hubungan listrik, umur pemakaian, harapan umur pemakian dan lingkungan.

Arus Kejut

Solenoid

Arus koil

Arus ditutup

Plunger

Per

Gap udara terbuka         gap udara tertutup                                              Beban

Solenoid yang digunakan untuk aplikasi tertentu harus solenoid yang menghasilkan gaya yang dikehendaki diseluruh pengoperasian rentang suhunya. Beban tidak boleh melampaui gaya yang dibangkitkan pada pukulan/dorongan. Jika beban terlalu besar maka plunger tidak akan menarik masuk atau menempati posisinya dan sebaliknya gaya harus sesuai untuk dibangkitkan karena energi yang berlebihan yang diberika pada solenoid harus didisipasi oleh eberapa alat yang lain.

KRAN  SOLENOID

Kran solenoid adalah kombinasi dari dua dasar unit fungsonal :

  1. solenoid (electromagnet) dengan inti atau plungernya.
  2. Badan kran yang berisi lubang mulut pada tempat piringan atau stop kontak ditempatkan untuk menghalangi atau mengijinkan aliran.

Aplikasi standar dari dari kran solenoid biasanya menghendaki bahwa kran dipasang langsung pada saluran pipa dengan pemasukan dan pada pipa dengan hubungan pemasukan dan pengeluaran langsung berlawanan satu sama lain.

Kran directional : menstart menghentikan dan mengontrol arah lintasan aliran. Kran tersebut menghantarkan aliran dengan membuka dan menutup lintasan aliran pada posisi kran tertentu dan asti. Kran diklasifikasikan dengan jumlah hubungan dan posisi kran.

Kran ON – OFF didasarkan pada penyusunan solenoid.kran analogi dapat mengguakan motor atau control penghambat untuk meningkatkan atau menurunkan jumlah aliran secara pelan-pelan.

MOTOR STEPPER

Adalah pulsa listrik yang diberikan menjadi gerakan rotor discret (berlainan) yang disebut step (langkah). Untuk satu putaran motor memerlukan 360 derajad setiap kali putaran.

Motor stepper dc terdiri dari stator yang diberi penguatan secara elektromagnetik dan rotor dengan magnet permanent.  Jumlah langkah tergantung ada kutub yang terpasang pada rotor dan stater.  Makin banyak kutub yang terpasang makin banyak langkah yang dihasilkan. Operasi motor starter sangat tergantung pada suplai daya yang menggerakkannya. Suplai daya membangkitkan pulsa, yang biasanya dimulai oleh computer mikro.

STEP

PULSA

System pengendali dari motor stepper  terdiri dari motor stepper dan paket penggerak yang berisi pengendali elektronis dan suplai daya. Penggerak adaah interface antara computer dan motor stepper. Penggerak berisi logika untuk mengubah atau menterjemahkan informasi digital menjadi putaran poros motor. Motor akan bergerak satu langkah untuk setiap pulsa yang diterima oleh penggerak.

Motor hybrid mengendalikan pengoperasian dari dua jenis  yang lain.  Dan banyak digunakan untuk aplikasi industri.

MOTOR DC TANPA SIKAT

Motor dc komutator dan sikat mengubah arah arus pada kumparan jangkar sedemikian rupa sehingga tenaga putaran selalu sama.

OSILOSKOP

SINAR ELEKTRON                                        layer pijar

katoda

filament/heater                     Plat devleksi

Vertical                             plat devleksi horisontal

Memfokuskan dan mempercepat anoda

OSILOSKOP adalah perlengkapan uji lengkap, digunakan untuk mengukur dan menampilkan penunjuk tegangan. Osiloskop dapat memberikan informasi mengenai bentuk, periode waktu dan frekuensi bentuk gelombang voltasenya. Manfaat untuk menghentikan sinyal input yang mengosilasi secara cepat untuk menguji bentuk gelombang atau bentuknya.

Inti osiloskop adalah CRT yang merupakan tipe khusus tabung electron. Electron yang dipancarkan oleh katode panas dari katup difokuskan dan diakselerasi.

Kuantitas dasar yang diukur oleh osiloskop adalah voltase. Asiloskop dibangkitkan dari stop kontak 120 v standart.

Control dan fungsi-fungsi osiloskop :

  1. power on adalah saklar on/off tegangan suplai
  2. intensity : mengatur kecerahan bentuk gelombang yang ditampilkan.
  3. focus : mengatur ketajaaman
  4. Y shift : mengatur posisi display secara vertical
  5. x shift : mengetur posisi bentuk gelombang horizontal.
  6. volts/div : saklar untuk memilih tinggi amplitude display.
  7. time/div : saklar untuk memilih lebar display. Mengatur waktu.
  8. input : sinyal input ditampilkan pada layer dimasukan pada jack stop kontak
  9. AC/DC : saklar untuk sinyal input dihubungkan langsung dc/ac.
  10. trigger controls : control untuk tampilan CRT yang stabil.
  11. Auto normal : proses set auto

12.  rigger Level KNOB : mengatur saat pemulaan display gelombang.

13.  Slope Control : mentrigger setengah bentuk gelombang positif atau negative.

14.  int-line-ext switch : memilih sumber sinyal trigger yang digunakan.

OSILOSKOP DIGITAL STORAGE (DSO)

Dso yang modern memungkinkan menangkap, menyimpan, dan menganalisis berbagai sinyal berulang atau sinyal even tunggal dibandingkan osiloskop analog.

RELAY

  1. Membandingkan relai elektromekanis dengan solid-state dalam hal konstruksi dan operasi.
  2. memperkenalkan symbol relai yang digunakan pada diagram skema.
  3. menggambarkan penggunaan relai pada aplikasi industri.
  4. menjelaskan bagaimana relai diberi batas kerja.
  5. menyebutkan operasi dari relai timer penundaan ON dan OFF.
  6. Mendiskusikan penggunaan relai pada rangkiaian logika.

RELAI PENGENDALI ELEKTROMEANIS

Relai Pengendali Elektromekanis (an Electromechanical Relay = EMR) adalah saklar magnetis. Menghubungkan rangkaian beban ON atau OFF dengan pemberian energi Elektromagnetis, yang membuka atau menutup kontak pada rangkaian.

Relay Elektromekanis EMR

Kontak Normally Open akan membuka ketika tidak ada arus yang mengalir, tetapi tertutup secepatnya ketika kumparan menghantarkan arus atau diberi tenaga.

Kontak Normally Close akan tertutup apabila kumparan tidak diberi daya dan membuka ketika kumparan diberi daya.

BERIKUT INI PENGGUNAAN Relai Untuk mengontrol beberapa o0perasi penghubungan :

L2
L111
OFF
ON

Dengan arus tunggal terpisah :

a. Saklar membuka koil tidak diberi energi
b. Saklar menutup koil diberi energi
ICR2
ICR2
ICR1
ICR1
OFF
ON

RELAI pada control penghubung rangkaian dan beban :

penggunaan relai untuk mengontrol rangkaian beban tegangan tinggi dengan rangkaian control tegangan rendah.

rangkaian control                                            rangkaian beban

120 V    +
12 V    +
-      +    +
S
S

Aplikasi pokok relai yang lain adalah untuk mengontrol rangkaian beban arus tinggi dengan rangkaian control arus rendah.

Relai elektromekanis  dibuat dalam berbagai jenis. Kumparan relai dan kontak mempunyai ukuran kerja  yang terpisah.  Bekerja pada pengoperasian arus dc/ac.

Spesifikasi kontak relai yang paling penting ialah ukuran kerja arusnya. Ini menunjukan besarnya arus maksimum yang dapat ditangani kontak. Tiga ukuran kerja arus umumnya adalah :

  1. in – rush atau kapasitas menghubungkan kontak.
  2. Kapasitas normal atau kapasitas mengalirkan terus menerus.
  3. Kapasitas membuka atau memutuskan.

Sebagian besar kontak pada saat ini dibuat dari campuran perak dibandingkan dari tembaga. Karena produksivitasnya bagus oksida perak yang membentuk pada kontak adalah penghantar yang baik.

RELAY SOLID – STATE

Digunakan untuk mengontrol beban ac/dc. Ssr yang digunakan untu mengontrol beban ac memiliki keistimewaan yang disebut penghubung nol.

SSR hybrid memiliki beberapa keuntungan dengan EMR. Dari segi umur pemakaian dan terpercaya karena SSR tidak memiliki bagian yang berputar, dapat digabungkan  dengan rangkaian transistor dan sirkuit IC serta tidak menimbulkan banyak interferensi elektromagnetis. Tahan goncangan dan getaran, respon yang cepat dan tidak memperlihatkan kontak yang memantul.

TIMING RELAY

Relai konvensional yang dilengkapii dengan mekanisme atau rangkaian perangkat keras tambahan untuk menunda pembukaan atau penutupan kontak beban. Timing relai pneumatic menggunakan sambungan mekanis dan system balon/penghembus udara untuk mencapai siklus pemilihan waktunya.

July 14, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

sistem pengaman barang dimall

Dengan kemajuan teknologi elektronika dan meningkatnya jumlah penduduk, maka kebutuhan akan sandang dan pangan semakin meningkat. Faktor kecepatan, ketepatan dan keamanan sangatlah diperlukan guna menunjang kelangsungan kerja yang maksimal tanpa ada kerugian yang begitu berarti. Hal ini ditandai dengan begitu pesatnya kemajuan yang terjadi dengan diciptakannya alat elektronika yang semakin canggih. Banyak keuntungan yang diperoleh dari perkembangan yang pesat dibidang elektronika diantaranya dapat membantu manusia dalam menyelesaikan beban tugas.

Dalam hal ini dengan berkembangnya dunia retail belakangan ini maka kebutuhan akan alat elektronik tersebut sangatlah penting untuk menunjang system keamanan sebuah retail itu sendiri, maka diperlukanlah sebuah RFID tag untuk menjaga keamanan pada barang yang dijajakan oleh retail tersebut. Untuk mengetahui seberapa besarkah manfaat dari RFID itu sendiri, maka dibuatlah alat yang berkaitan dengan hal tersebut diatas dan diberi judul “ Mall Security System “ , dimana system yang dipakai disini adalah system keamanan terhadap barang-barang yang dijajakan pada sebuah retail/mall dengan memanfaatkan RFID tag didalamnya dan pada pintu keluarnya dipasangi reader dan pengirim sinyal bahaya secara wireless dan LCD sebagai tampilan displaynya.

June 22, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

PENUTUP

BAB V

PENUTUP

V.1. Kesimpulan

Dari evaluasi hasil kerja alat dapat diambil kesimpulan bahwa dalam penelitian yang telah dilakukan tersebut, maka penulis mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut, yaitu :

  1. Rangkaian yang digunakan cukup sederhana.
  2. Sensor LM35 dalam alat ini digunakan sebagai pengukur temperatur suhu tubuh seseorang (pasien), ini karena sensor tersebut memiliki tingkat akurasi yang cukup akurat.
  3. Dengan pengiriman pesan yang dilakukan oleh ponsel kesistem yang menjadi stasiun pantau yaitu GSM Modem juga terhubung kemikrokontroler sehingga telemetri dapat mempermudah memonitor suatu keadaan temperatur seseorang tanpa dibatasi waktu dan jarak.
  4. Dapat memonitor secara berkala dan kontinyu pada sistem pengukuran tersebut sehingga relatif efektif dan efisien, dan selama tersedianya jaringan GSM maka dapat dilakukan darri manapun tempatnya.

V.2 Saran-Saran

Saran-saran yang dapat penulis sampaikan adalah :

  1. Dengan adanya perbaikan sistem dan pengembangan maka alat tersebut akan memiliki kinerja yang lebih baik dari yang telah dibuat.
  2. Bila digunakan server pada PC maka kinerja akan lebih mudah dan cepat karena data dapat tersimpan didalam sistem komputer, dengan penambahan jenis alat baik mikrokontroler, sensor maupun detektor memungkinkan alat akan bekerja maksimal dan lebih baik hasilnya.
  3. Dengan perkembangan teknologi komunikasi-informatika dan elektronika memungkinkan adanya pengembangan sistem yang mungkin bisa dikaji ulang untuk pembuatan alat seperti misalnya pemantauan melalui video streaming langsung dari telepon selular sehingga alat akan memiliki mangsa pasar seiring dengan pengembangan tersebut.
  4. Harapan penulis semoga penulisan ini dapat berguna dan menjadi sumbangsih bagi ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan diharapkan kritik-saran yang membangun dari semua pihak sehingga bila ada penulisan dan penelitian lanjutan akan lebih baik dan sempurna.

June 15, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

SUB SISTEM SWITCHING

SUB SISTEM SWITCHING

  1. Fungsi Switching
    1. Dilihat dari bentuk istilah, maka switching adalah alat untuk mmbangun suatu hubungan (sambungan) aliran listrik.
    2. Fungsi switching adalah melaksanakan penyambungan telekomunikasi apabila ada permintaan (panggilan) dari setiap pesawat terminal atau pelanggan.

Dalam teori, suatu switching haruslah memiiki :

  1. Mampu untuk menyambungkan setiap permintaan pelanggan/terminal (Full accesscapabilities) walaupun dalam waktu yang tidak bersamaan.
  2. Mampu secepatnya melayani permintaan penyambungan, tanpa melihat berapa jumlah sambungan yang telah terjadi pada waktu itu.

Sub system switching (sentral) dapat dibedakan atas jenis informasi yang disalurkan/disambungkannya :

1. Sentral Telepon

Sentral telepon merupakan pusat pengatur hubungan antara pelanggan telepon. Jenis-jenis sentral telepon :

    1. Jenis Sentral Telepon

Gambar 1. Jenis-Jenis Sentral Telepon

a. Dilihat dari Cara Penyambungan, maka sentral telepon yang digunakan dinegara kita adalah sentral telepon manual dan sentral telepon otomatis.

Sentral Telepon Manual :

Gambar Sentral Telepon Manual

Sentral Telepon Local Battery (LB) yaitu, sejenis sentral telepon manual yang sumber catuan listrik bagi pesawat pelanggan ditempatkan pada pesawat pelanggan itu sendiri.

Sentral Telepon Manual Central Battery (CB) yaitu : sejenis sentral telepon yang sumber catuan listrik bagi pesawat pelanggan (diwaktu pelanggan melakukan percakapan) berasal dari sentral telepon.

Sentral Telepon Otomat

Berbeda dengan sentral telepon manual (LB dan CB) , pada sentral telepon Otomat, perlengkapan penyambungannya tidak perlu dilayani oleh tenaga operator tetapi proses penyambungannya berlangsung secara otomatis, yang digerakan oleh pesawat telepon sipemanggil sendiri.

Sentral Telepon Otomat Dibedakan seperti dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar Sentral Telepon Otomat

Terdiri dari :

Switching Unit.

Control Unit, adalah bagian yang mengendalikan arah kemana suatu percakapan diarahkan sesuai dengan informasi atau data yang diterima.

Super Visory Unit bagian yang memberikan tanda atau sinyal kapan waktu datangnya atau percakapan dan kapan selesainya.

Sentral Telepon Elektromekanik, sentral telepon otomat yang proses penyambungannya menggunakan relai.

- STO STEP BY STEP, sentral yang proses penyambungannya dilaksanakan digitperdigit (selangkah demi selangkah angka demi angka) yang diproses oleh masing-masing tingkat selector.

CIRI-CIRI STO STEP BY STEP :

-          Switching unitnya berupa selector (pemilih)

-          Tiap selector mempunyai control unit sendiri yang disebut relai set.

-          Proses penyambungannya setingkat demin setingkat dan peralatan sentralnya terdiri dari beberapa tingkat.

-          Setiap pulsa yang dikirim oleh pelanggan pada saat ia memutar angka akan diterima dan diolah oleh control unitnya dan langsung mengerjakan selector pada tiap tingkat.

-          Selama hubungan berlangsung, baik switching unit dan control unit akan terus menerus tergenggam (Holded).

KEUNTUNGAN dari Sistem Step By Step : Bila terjadi gangguan (kerusakan) pada salah satu control set, tidak akan banyak mempengaruhi tugas sentral secara keseluruhan, karena setiap switching set mempunyai sebuah control set.

KELEMEHAN :

  1. Peralatan switching dan control unit harus disediakan dalam jumlah banyak, karena selama hubungan berlangsung peralatan ini tetap tergenggam.
  2. dipergunakan ruangan yang luas untuk menampung peralatan yang jumlahnya banyak tadi.
  3. sulit untuk melaksanakan program-program untuk fasilitas-fasilitas tertentu.

CIRI-CIRI STO COMMON CONTROL :

  1. Control unitnya yang disebut marker dan register aka mengendalikan beberapa switching unit, artinya pengendalian dilakukan oleh control unitnya.
  2. Proses penyambungannya secara serentak, bukan step by step.
  3. setiap rangkaian pulsa yang dikirim oleh pelanggan (pemanggil) ditampung lebih dahulu oleh register, jadi tidak langsung untuk mengerjakan switching unit.
  4. Selama hubungan berlangsung hanya switching unitnya saja yang tergenggam sedang control unitnya akan bebas kembali bila hubungan tidak berlangsung.

KEUNTUNGAN SISTEM COMMON CONTROL :

  1. Jumlah control unitnya tidak perlu sebanyak switching unitnya.
  2. ruang yang diperlukan lebih kecil disbanding dengan system step by step.

KELEMAHAN COMMON CONTROL bila terjadi kerusakan pada control unit, akan mengganggu elancaran hubungan, karena hanya satu control unit yang dipakai untuk mengawasi beberapa switching unit.

SENTRAL TELEPON OTOMAT (STO) ELEKTRONIK : sejenis sentral yang proses penyambungannya dilakukan secara elektronis (sebagian alatnya terdiri dari komponen semi konduktor, transistor, dioda rangkaian IC dan sebagainya).

Yang termasuk STO Elektronik yaitu :

  1. STO Semi Elektronik Analog : STO jenis ini proses penyambungannya dikendalikan oleh suatu program yang disimpan dalam prosesor (SPC = store programmable control), namun lalulintas antar pelanggan masih bersifat analog.
  2. STO Full Elektronik SPC Digital : STO ini proses penyambungannya dikendalikan oleh suatu program yang disimpan dalam prosesor (SPC), yang prosesor dan bagian lintas percakapan antar pelanggan sudah bekerja secara digital.

Ditinjau dari cara penggunaannya, maka jenis sentral telepon dibedakan atas :

  1. Sentral telepon local : sentral telepon yang disediakan untuk umum dalam wilayah operasi yang terbatas dalam satu kota.

Fungsi Sentral Lokal (local Exchange) :

  1. menyambungkan dengan switch terminal telepon antara pemanggil dan yang dipanggil.
  2. Menyambungkan dengan switch terminal telepon yang memanggil kesentral local atau sentral Trunk (trunk exchange)
  3. Menghitung pulsa tagihan percakapan local.
  4. Mengadakan pengkuruan waktu untuk pemeliharaan sentral, sirkuit dan trafik (lalulintas percakapan).
  5. Mengoperasikan nomor telepon sambungan baru (pada sentral SPC).
  1. Sentral Telepon Pelanggan : digunakan oleh pelanggan sendiri biasa disewa dari PT TELKOM.
  1. Sentral Telepon PABX : biasa disebut STLO (sentral telepon Langganan Otomat)
  2. Key Telepon : pada key telepon setiap pesawat cabang  dapat berfungsi sebagai operator untuk pesawat cabang lainnya yang berada dalam jaringan yang sama.
  3. Sentral telepon Transit (transit/toll Exchange) : sentral telepon yang memi9liki pelanggan secara langsung, atau sentral telepon yang tugasnya bukan  untuk menyambungkan antara dua pelanggan, tetapi hanya menyambungkan antara dua sentral telepon.

FUNGSI :

  1. menyambungkan sentral memanggil ke dipanggil.
  2. Menganalisa dan menhitung tagihan atau pulsa SLJJ.
  3. Sarana untuk operasi dan pemeliharaan sentral kondisi sirkuit dan trafik.

Gambar Beberapa Sentral Telepon Transit

  1. Sentral Telepon Tandem : berfungsi untuk menyambungkan antara dua buah sentral telepon local yang terdapat alam satu kota bersetral banyak (multi exchange town).

Sentral Tandem Dengan 3 Sentral Lokal

  1. Sentral Telepon Interlokal (SLJJ) : berfungsi untuk menyambungkan dua buah sentral telepon local dari dua kota yang berbeda.

Sentral Interlokal dengan masing-masing sentral lokalnya

  1. Sentral Telepon Internasional : berfungsi untuk menghubugkan dua buah sentral telepon dari dua buah Negara yag berlainan.
  1. Beberapa Fungsi Tambahan dari sentral telepon :
  1. Hunting system : bila sipelanggan memiliki lebih dari satu telepon.
  2. Direct Inward Dialing : Harus memiliki perangkat PABX. Nomor telepon cabang (extention number) dapat langsug dihubungi dari luar tanpa bantuan operator di SLTO (PABX) tersebut.
  3. Follow Me : mengalihkan panggilan telepo yang masuk keno telpon lainnya.
  4. Home Mattering : dapat mengetahui berapa besarnya pemakaian pilsa saat melakukan percakapan SLJJ.
  5. Mempercepat Pendialan (abbreviated dialr) : dapat menhubungi no tertentu tanpa mendial digit no yang akan dihubungi.
  6. Hot Line : menghubungi pelanggan tertentu tanpa memutar piring putar telp.
  7. Conference Call : membangun hubungan dengan banyak pelanggan lainnya dalam waktu yang bersamaan.
  8. Ring Back Service (114) : dapat melakukan pengetean pensinyalan (bel) pesawat telponnya sendiri/
  1. Macam-macam percakapan Telepon :

Macam – Macam Percakapan telepon

  1. Macam-Macam Pelanggan
  1. Dilihat dari status pelanggan sendiri dibedakan atas :
  1. Pelanggan Perorangan (Pribadi) :
  2. Pelanggan Perusahaan (Badan Usaha) :
  1. Dilihat Dari Lokasi siPelanggan Berada :
  1. Pelanggan Lokal : dalam lingkungan wilayah sentral telekomunikasi berada.
  2. Pelanggan Jarak Jauh (LDS – Long Distance Subscireber) : berada pada wilayah local yang berlainan dengan wilayah sentral.
  1. Macam-Macam Sambungan Telepon :
  1. Sambungan Induk : sambungan pesawat telepon yang langsung berhubungan kesentral telepon.
  2. Sambungan Cabang : sambungan pesawat telepon yang tidak tersambung langsung ke STO untuk umum tetapi ters3ambung ke pesawat sambungan induk dan sentral STLO.
  3. Sambungan Pokok :
  4. Sambungan Telepon Kendaraan Bermotor (STKB) ; berfungsi untuk menghubungkan satu telepon mobil dengan telepon mobil lainnya.

Dilihat dari Ruang gerak yang dapat dijangkaunya :

  1. STKB Konvensional : ruang geraknya agak terbatas paling awal ditemukan orang.
  2. STKB Selular :berbentuk sel persegi 6 dengan sebuah stasiun induk.
  1. Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) : menggunakan saluran radio.
  1. Sentral Telegrap : adalah perangkat yang berfungsi untuk melaksanakan proses penyambungan dalam komunikasi telegrap.
  2. Macam-Macam Hubungan Telegrap :  dibedakan atas :

a. Dari segi penyediaan sirkuit ada tiga jenis yaitu.

1. Hubungan simplek : satu pesawat printer yhanya berfungsi sebagai pesawat kirim saja, atau pesawat terima saja dan tidak dapat berfungsi ganda.

2. Hubungan Half Duplek : berperan semi ganda.

3. Hubungan Ful Duplek : dapat berfungsi ganda mengirim dan menerima tanpa saling mengganggu dan hubungannya dapat berlangsung dua arah.

b. dilihat dari penyampaian telegram : dibedakan atas :

1. Hubungan Pon to poin (ptp) : satu terminal berhubungan dengan satu terminal telegrap lainnya.

2. Hubungan Transit : pengiriman tidak dapat secara langsung tetapi perlu operator atau terminal lain untuk ketujuan pengirimannya.

3. Hubungan Langsung : dapat mengirim langsung ketujuan.

c. Dari segi Pelayanan yang diberikan dibedakan atas :

1. Pelayanan Gentex : General Telex sejenis hubungan antar pesawat teleprinter (telex) yang berada pada dua kantor yang berbeda.

2.  Pelayanan TelTEx : sejenis pelayanan telegrap melalui telex.

3. Pelayanan TELEXOGRAM : pelayanan pada pengunjuk telegram diloket-loket telegrap.

4. Pelayanan Telex Booth : berfungsi sebagai pesawat teleprinter umum oleh public yang dating keloket untuk mengadakan hubungan dengan kantor tujuan.

5. Pelayanan Telex LDS : Menggunakan media transmisi radio.

6. Pelanggan Telex Lokal : berada dalam wilayah local dari satu sentral telex.

  1. Macam-Macam Komunikasi Telex

Hal-Hal Yang Perlu diperhatikan dalam Pengoperasian Telex :

  1. Persiapan Pengoperasian.
  2. Mempersiapkan rekaman berita.
  3. Langkah-langkah perekaman berita.
  1. SENTRAL DATA : Komunikasi data dapat dikatakan sebagai proses pengiriman informasi (data), yang telah diubah dalam bentuk kode tertentu yang sudah disepakati bersama melalui media transmisi dari satu tempat ketempat yang lain.

Gambar Konfigurasi komunikasi data

Fungsi Masingt-masing perangkat :

  1. DTE : melayani proses I/O data yang menjadi penghubung antara manusia dengtan mesin.
  2. MODEM : melakukan proses modulasi dan demodulasi, yaitu merubah sinyal data digital menjadi sinyal data analog.
  3. Komputer : Pereangkat untuk memproses data.

DITINJAU DARI SEGI PELAYANAN yakni :

  1. Komunikasi data melalui kanal sewa. : konfigurasi komunikasi data melalui PSTN prosedur pelaksanaan pada prinsipnya dilakukan :
  1. pelaksanaan melalui hu8bungan saluran telepon.
  2. pemindahan hubungan antara telepon ke modem dilakukan secara otomatis dan manual.
  3. pertukaran informasi/data antara kedua belah pihak yang berhubungan.
  1. Sistem Komunikasi Data Paket : sejenis komunikasi data yang menggunakan teknologi paket switching.
  2. Komunikasi data melalui SKSBM : system komunikasi ini terdiri dari pengendali yang menggunakan stasiun-stasiun remote (jarak jauh, terpencil) stasiun pengendali berperan sebagai pusat pengendali, dan sebagian data dipusatkan pada stasiun pengendali yang kemudian disalurkan kelokasi-lokasi yang ditentukan.

TIGA KOMPONEN PENDUKUNG UTAMA SKSBM :

  1. Stasiun Bumi pengendali (Master Stasiun) yang mengendalikan stasiun bumi remote.
  2. Stasiun bumi remote yang tersebar diseluruh wilayah liputan.
  3. Satelite komunikasi.
  1. Tempat-Tempat Penjualan Jasa Komunikasi :
  1. Tempat-tempat telepon umum, dikenal dua macam pesawat telepon umum :
  2. Pesawat Telepon Umum Koin :
  3. Telepon Umum Kartu (TUK)
  4. Kamar Bicara Umum
  5. Warung Telekomunikasi (WARTEL)
  6. Kios Telekomunikasi.

June 13, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

sistem pemantauan keamanan barang pada mall

Sistem pengaman untuk barang, sistem mikrokontroler dengan otomatis menggunakan RFIDTAG jika terjadi pencurian barang kemudian RFIDTAG yang dikendalikan oleh mikrokontroler menginformasikan keserver bahwa terjadi pengambilan barang tanpa sepengetahuan pengawas dan diberikan alarm tanda barang telah dicuri pada sistem sehingga server dapat dengan mudah mendeteksi setiap saat.
gambaran singkat ini adalah sebagai acuan penulisan untuk sebuah penelitian yang dilakukan dalam mempelajari mikrokontroller dan untuk membuat rancang-bangun uji coba tersebut penulis mengumpulkan buku-buku referensi maupun artikel, makalah dan dari situs-situs yang terdapat diinternet. secara umum sistem sederhana ini memiliki blok rangkaian yang terdiri dari rangkaian RFIDTAG, MIKON, READER, SERVER PC, sistem pentransmisian data menggunakan transmisi searah. menggunakan RS232 sebagai port yang menghubungkan kePC.
sistem pemantauan otomatis ini sebagai acuan karena yang melakukan penelitian ini bekerja pada salah satu mall, perangkat ini memang sudah diterapkan hampir disetiap mall tetapi penulis mencoba mengadakan penelitian untuk pengembangan sistem tersebut. disamping rasa keingin tahuan penulis pada sistem tersebut penulis juga ingin mengaplikasikannya secara nyata agar memahami sistem kendali otomatis. harapan penulis penelitian ini akan bermanfaat dan berguna terhadap perkembangan keamanan yang terdapat dimall maupun tempat yang yang sulit melakukan pemantauan secara kontinyu apalagi jika keadaan tidak memungkinkan dalam arti sedang ramai pengunjung sehingga pemantauan dapat dilakukan dengan baik. setiap sistem kendali otomatis pasti memiliki kekurangan dan kelebihan.
inti dari penulisan yaitu agar dapat memahami tentang sistem mikrokontroller yang semakin berkembang saat ini.

June 1, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Protected: Telemetri Temperatur Pada Pasien Menggunakan Telepon Selular

This content is password protected. To view it please enter your password below:

June 1, 2010 Posted by | Uncategorized | | Enter your password to view comments.

Pengantar Elektronika Industri

Buku ini ditulis sebagai bidang pelajaran yang akan mengantarkan para pembaca kepada dunia luas perlengkapan dan sirkuit elektronik.kebutuhan yang terus meningkat dalam hal perbaikan output produksi dan pengurangan biaya, mengharuskan seorang pekerja teknis dapat menggunakan teknik-teknik pemanufakturan modern.
buku pegangan ini dimaksudkan untuk digunakan dalam program-program pelatihan industrial disekolah, fakultas teknik dan diindustri. meskipun para pembaca perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai teori dan istilah elektrik sebelum menggunakan buku ini, namun tidak harus menguasai persyaratan matematis.
Buku pegangan ini disusun secara logis, mudah dibaca, dan dipahami. buku ini ditandai dengan berbagai contoh dan tes yang memperkuat pembelajaran dan membangun kepercayaan diri.
teks dalam buku ini menyeluruh mencakup distribusi daya, elektronik daya, kendali motor, PLC, dan sistem kendali proses. Dengan banyak topik, maka diperlukan usaha keras untuk membangun kohesi sehingga pembaca akan mengetahui bagaimana semua topik saling sesuai.

Daftar Isi
I. Keselamatan Industri
II. Diagram listrik industri
III. Transformator dan Sistem Distribusi Daya
IV.Alat Pengendali Industri
V. Elektronik Daya
VI. Motor dan Generator Industri
VII. Relai
VIII. Kontaktor dan Pengasut Motor
IX. Rangkaian Pengendali Motor
X. Jenis-Jenis Pengendali
XI. Sistem Kontrol Proses
XII. Programmable Logic Control (PLC)
XIII. Mesin dan Pemroses yang Dikontrol Komputer

Judul Asli : Industrial Electronics (Frank de Petruzella)
Penerbit Andi Jogjakarta
Perpustakaan STT-Jakarta

June 1, 2010 Posted by | Uncategorized | | 1 Comment

Telemetri

telemetri merupakan pengukuran yang dilakukan dari jarak jauh dari tempat yang aman dalam wilayah yang sulit dijangkau atau tidak memungkinkan.
Telemetri adalah perpaduan antara teknologi komunikasi dan informatika dalam hal ini juga dikarenakan kemajuan dan perkembangan dalam dunia elektronika yang sudah semakin modern sehingga rangkaian terpadu dari integrasi rangkaian2 tersebut yang menjadi kendali (pengontrol) dengan rancang bangun alat dapat membantu sebuah sistem bekerja dengan maksimal, sehingga dapat mempermudah manusia dalam melakukan berbagai hal dalam melakukan aktivitas ataupun pekerjaannya.
mikrokontroler adalah alat yang berfungsi untuk mengendalikan sistem, karena didalam mikrokontroler semua program diisikan sesuai dengan kebutuhan sistem. mikrokontroler adalah otak dari sebuah sistem yang dibuat.
sekarang ini perkembangan teknologi yang dikembangkan oleh para ahli memaksa adanya perubahan yang signifikan sehingga dengan perkembangan tersebut dunia ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami peradaban yang mengarah pada modernisasi digital untuk berbagai keperluan manusia.
Telemetri biasa digunakan untuk pengukuran jarak jauh seperti ; pengukuran suhu gunung berapi, gempa, tsunami dan bencana alam lainnya. tetapi biasa digunakan juga pada sistem angkasa luar. perkembangan yang semakin pesat ini mengakibatkan adanya penelitian yang menghasilkan sebuah terobosan2 baru. karena sekarang ini Telemetri berkembang tidak hanya untuk pemantauan bencana atau antariksa. dalam sistem pengamanan dan peralatan medis juga dapat digunakan sebagai pelayanan yang dapat mempermudah pendeteksian dan pemantauan tanpa harus melakukannya dari tempat tersebut.
perkembangan yang berlangsung terus menerus nantinya akan mengarah keteknologi yang maju dan memungkinkan manusia hanya sebagai operator dan hanya membutuhkan sedikit tenaga kerja.
pengaruh dan dampak yang ditimbulkan dari sistem otomasi dan kendali jarak jauh ini juga harus dicermati dengan seksama agar meminimalisasi kesalahan2 yang akan berakibat fatal.
peran serta tenaga-tenaga ahli sangat diperlukan, agar dapat berfungsi baik maka pengenalan otomatisasi dari penginderaan jarak jauh ini harus disosialisasikan. sehingga kendala-kendala yang terjadi dapat diselesaikan dengan baik.

June 1, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

BABAD BENDESA MANIK MAS

This slideshow requires JavaScript.

BABAD BENDESA MANIK MAS

BABAD : KY. GUSTY. PANGERAN BENDESA MANIK MAS
MEKEL PEDUWUNGAN
DISUSUN OLEH SRI BINTANG DHANU
DISADUR BERDASAR ASLINYA 2010
OLEH I NYOMAN DHARMA APRISANDY, ST

KELUARGA BESAR PICASARI TIANYAR
CERITA BABAD BENDESA MANIK MAS INI KAMI PERSEMBAHKAN KEPADA SAUDARA – SAUDARA SEPUPUKU DAN ANAK – ANAKU KELAK AGAR DAPAT MENGETAHUI SEJARAH LELUHUR DAN SANGAT BERGUNA UNTUK MENELUSURI GARIS KETURUNAN DAN BHAKTI KEPADA WISAMA – WISAMA KAWITAN SERTA MELAKSANAKAN TUGAS DAN KEWAJIBAN BAGI MASING – MASING PARA PRATISENTANANYA SESUAI DENGAN ISI PRASASTI.

KATA PENGANTAR
OM SWASTYASTU,
Dalam Penulisan dan penyaduran Babad Bendesa Manik Mas ini kami sajikan dalam bentuk bahasa Indonesia, agar dapat dimengerti oleh generasi Pratisentana khususnya dan masyarakat luas pada umumnya sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang budaya serta pandangan hidup pada masa lalu.
Rangkuman cerita ini kami terjemahkan dari banyak babad yang dapat kami kumpulkan berupa lontar, sumari, terjemahan diantaranya dari bapak Gusti Bagus Sugriwa, Bapak Gunarsa, Bapak Gede Bendesa, Bapak K Subandi yang mana beliau adalah tokoh penting yang berperan sehingga sepatutnyalah kita ucapkan terima kasih kepada tokoh-tokoh tersebut yang sudah berjasa.
Disamping lontar – lontar sebagai sumber, kami juga mengutip dari buku – buku sejarah, seperti Negara Kerta Gama Majapahit, Kediri, daha dan sejarah lain yang menunjang sebagai sumber data untuk menyusun tulisan ini, disamping itu pula dari prasasti yang ada kaitannya dengan peristiwa dimasa lalu tersebut.
Banyak kesulitan yang dijumpai dalam penyusunan tulisan ini, disebabkan karena minimnya data – data peninggalan sejarah masa lalu tersebut terutama yang berada dipura – pura yang masih memiliki bukti – bukti sejarah karena tidak diperbolehkan dapat dibilang telah dikeramatkan.
Hal semacam ini merupakan kendala yang dihadapi untuk mengungkap sejarah dan latar belakang kehidupan pada jaman dahulu kala, oleh karena kelangkaannya.
Mengingat babad Bendesa Manik Mas ini sangat menarik dan merupakan awal mula berdirinya kerajaan bali Majapahit. Maka kami memandang sangat perlu untuk diungkapkan keberadaannya. Yang mana akan ikut memberi warna perkembangan sejarah berikutnya.
Demikian tulisan ini kami buat kepada semua pembaca agar dapat dijadikan sebagai pengetahuan sejarah – sejarah kuno yang amat langka ini. Untuk lebih sempurnanya buku ini maka kami harapkan kesediaan bagi yang memiliki bukti – bukti sejarah dan memiliki pengetahuan tentang Babad ini sudi kiranya untuk melengkapinya berdasarkan prasasti, sejarah atau lontar yang sesungguhnya sehingga buku tersebut dapat lebih otentik dan cerita berdasarkan sejarah sesungguhnya.
Atas segala kesempatan dan perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Semoga Ida Hyang Perama Kawi Selalu Memberkati Kita.
OM SANTI SANTI SANTI OM
PENGANTAR KATA DARI PENULIS
Om Swastyastu,
Puji syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa penulis ucapkan, karena atas karunianyalah penulis dapat menyadur cerita dari Babad Bendesa Manik Mas ini kedalam Tulisan yang baru dan sesuai dengan Tulisan sebelumnya yang telah diuraikan oleh Sri Bintang Dhanu, sehingga penulis mengulas kembali dalam bentuk tulisan yang baru tetapi tidak merubah tatanan aslinya.
Adapun tulisan ini dibuat untuk lebih mempermudah bagi pembaca dan dapat disebar luaskan sebagaimana mestinya, agar semua khalayak dapat menikmati dan membacanya.
Harapan kami saduran ini dapat berguna bagi semua masyarakat dan dapat berperan penting dalam pengetahuan sejarah tentang Leluhur dan garis keturunan bagi para pratisentana dan bagi orang yang ingin mengetahui cerita – cerita pada zaman dahulu kala sebelum memasuki zaman atau masa sekarang ini.
Terima kasih kami ucapkan kepada kakak sepupu Dr. Sudhaberata Purna SPOG dan keluarga, serta Keluarga Besar Picasari Tianyar, kami yang telah memiliki dan membagikannya kepada kami sehingga kami dapat menelusuri sejarah yang sebelumnya tidak kami ketahui.
Harapan Kami semoga buku ini dapat lebih disempurnakan lagi. Dengan segala kerendahan hati bagi yang memiliki bukti – bukti sejarah sebenarnya kami harapkan dapat membagi pengetahuan sehingga sejarah masa lalu dapat kita jadikan sebagai pengetahuan bersama.
Atas perhatian dan waktunya kami ucapkan terima kasih.
Om Shanti Shanti Shanti Om.
Hormat saya

I Ny Dharma As. ST

KERAJAAN BALI AGA DAN MOJOPAHIT
Kerajaan Bali Aga di Jaman pemerintahan SRI RATNA BUMI BANTEN, yang memerintah ditahun 143 Masehi dibedahulu terkenal dengan Raja Bedhahulu, Beliau masih keturunan Raja Daha.
Sri Asura Ratna Bumi Banten tidak mau tunduk dengan kerajaan Mojopahit dimana pada waktu kerajaan Mojopahit dipimpin oleh seorang Raja Putri bernama Tri Buwana Tungga Dewi dengan patih utamanya Aditya Warman bergelar Arya Damar dan ditemani Patih Gajah Mada.
Karena keberaniannya beliau menentang kehendak Mojopahit itu menyebabkan Gajah Mada tak berani gegabah menghadapi Raja Bali ini. Disamping itu Gajah Mada telah mendengar bahwa diBali banyak terdapat tokoh – tokoh sakti dan amat tangguh yang menjadi tulang punggung kekuatan kerajaan Sri Asura Ratna Bumi Banten itu.
Tokoh – tokoh yang paling ditakuti oleh Gajah Mada adalah :
Ki Kebo Iwa, Ki Pasung Grigis : yang menjabat sebagai mangku bumi kerajaan Bali Aga, memang kesaktian para tokoh tersebut sudah sangat tersohor kepelosok negri, belum lagi beliau didukung oleh sederetan orang – orang sakti seperti :
Ki Tunjung Biru, Tunjung Tutur dan tokoh lainnya.
Olehkarena keperkasaan beliau inilah menyebabkan ki Patih Gajah Mada berpikir berat mencari siasat bagaimana caranya untuk menundukan Bali Aga menjadi dibawah kekuasaan kerajaan Mojopahit.
SUDAH BERAPA KALI DIADAKANRAPAT PIMPINAN DIDALAM KERAJAAN KHUSUS MEMBAHAS TENTANG Bali Aga, tetap belum ada yang dapat memecahkan permasalahan yang memang sangat rumit ini.
Tidak sedikit yang telah disumbangkan oleh para panglima perang dan ahli politik Majapahit itu guna bias menundukan bali Aga, tetap saja belum dapat terpecahkan, karena bukan sembarang musuh yang dihadapinya. Mereka serba sempurna dalam tata pemerintahan, angkatan perang, kekuatan prajurit yang tak terhitung disamping kesiapan Kerajaan Bali Aga dalam keadaan siap perang. Kalau ada gangguan musuh dari luar Bali. Patih Gajah Mada memang merasakan ada kesulitan besar yang menghantui dirinya dan belum dirasakan sebelumnya, walaupun dia akan berhadapan dengan musuh lebih besar dan lebih kuat yang memiliki peralatan perang serba lengkap. Tetapi menghadapi Bali terasa ada rasa takut dan ragu-ragu menyelinap pada dirinya sampai-sampai Gajah Mada memberikan julukan bahwa Raja Bali Aga yang berkuasa dibali adalah Seorang raksasa manusia. Berbadan manusia berkepala raksasa dengan mitosnya sendiri. Kerajaan di Beda Hulu yang siap sedia menyerang kedewataan berani memusuhi para dewata di kahyangan yang maksudnya adalah kerajaan Majapahit. Demikian Gajah Mada Menyebutnya memang beliau Raja Bali yang bergelar SRI ASURA RATNA BUMI BANTEN itu memang tidak mau tunduk sama sekali dengan Majapahit. Karena mereka ingin menjadi kerajaan yang merdeka. Tidak mau dibawah kerajaan manapun.
Begitu beraninya SRI ASTA ASURA RATNA BUMI BANTEN, raja Bali Aga waktu itu, berkat kearifan beliau memerintah menyebabkan rakyat sangat menghormati dan rakyat hidup aman sentosa. Siapa sebenarnya Raja Bali Aga itu sebelum misi Gajah Mada ke Bali ? Di Bali sebelumnya Sri Asta Asura Ratna Bumi Banten berkuasa. Masih banyak lagi kita jumpai Raja-Raja yang memerintah diBali Aga untuk lebih jelasnya kita mempunyai gambaran situasi kerajaan diBali mari kita lihat sederetan Raja-Raja memerintah dibali sebelum itu.
RAJA – RAJA JAMAN BALI KUNO
Berdasarkan penemuan beberapa prasti yang ditinggalkan pada jaman pemerintahan Raja – Raja masing-masing dapat kita jumpai :

1. Raja Sri Kesari Warama Dewa, memerintah tahun 915 Masehi.
2. Raja Urgrasena tahun (15- (42 Masehi.
3. Ratu Sri Ajitaberendra Warmadewa tahun 955 – 967 Masehi.
4. Sri Maha Raja Sri Wijaya Maha Dewi.
5. Udayana Warmadewa tahun 989 – 1001 M.
6. Darma Wangsa Wardana Mara Kata Pangkajas Thana tahun 1002 – 1025 masehi.
7. Anak Wungsu tahun 1049 – 1077 masehi.
8. Sri Maha Raja Wala Prabu, tahun 1079 – 1088.
9. Sri Maharaja Kaselendu Kirana Guna Darma Laksmidara Wijaya Uttungadewi tahun 1098 – 1101.
10. Sri Jaya Sakti, tahun 1133 – 1150.
11. Raja Ragajaya tahun 1155.
12. Raja Jaya Pangus, tahun 1177 – 1181.
13. Sri Maharaja Jaya Ekajaya Lancana, tahun 1181 – 1185.
14. Batara Guru Sri adi kunti
15. Parameswara Sri Hyang Ingyang Adidewa tahun 1260.
16. Raja Patih Makakasir kebo perud.
17. Paduka Betara Guru tahun 1324 Masehi.
18. Raja Wilajaya Kertaningrat.
19. Sri Asta Asura Ratna Bumi Banten thun 1337 Masehi.
20. Sri Kesna Kepakisan di Samplangan dibawah pengaruh majapahit.

Demikian jajaran Raja-Raja yang pernah memerintah Bali Aga dari jaman kuno sampai jatuhnya Bali Aga ketangan Majapahit. Sampai akan menurunkan kerajaan Sri Kresna Kepakisan diBali sehingga terjadi babad berikutnya dengan istilah garis keturunannya. Dalam sejarah singasari, pada jaman pemerintahan kertanegara, beliau pernah mengirimkan pasukannya keBali Aga. Tahun 1260 untuk menyerang bali, pada waktu itu yang menjadi raja diBali adalah Sri Hyang Ning Hyang Adi Dewa Lancana. Bali dapat dikalahkan dan beliau sang raja ditahan dibawa kejawa sebagai tawanan perang yang menjadi senopati kediri waktu itu adalah Ki Kebo Bunggalan dengan panglima perangnya yang sangat tangguh antara lain Kiyai Pedung, Kiyai Lembu Peteng, Kiyai Dengdi, Kiyai Kebo Anabrang, Kiyai Jaran Waha, Kiyai Patih Nengahan, Kiyai Arya Sidi dan lainya..
Setelah Bali aga jatuh, Bali dipercayakan oleh Raja yang dipimpin kiyai Kebo Anabrang, atas jasa-jasanya yang sangat besar saat itu. Beliau diberi gelar oleh Raja Singasari bernama : Rakerian Demunggate Bunggulan. Sedangkan Ki Kebo Perud putra beliau diangkat sebagai pelaksana pemerintahan sehari-hari mengingat Ki Kebo Bunggalan bapaknya sudah lanjut usia selanjutnya Ki Kebo Perud diangkat sebagai Raja tahun 1218 dengan bergelar Raja Patih Makakakisar Kebo Perud beliau memerintah atas nama Singasari.
Setelah Bali Aga sudah tenang dan tentram kembali, lama kelamaan pemerintahan kerajaan diserahkan kembali kepada keturunan raja bali Wangsa Warman yang mana beliau itu memang dinasti Raja Keturunan Batara Guru.
Yang ditunjuk sebagai raja adalah Sri Darma Tungga Dewa Warma Dewa dengan gelar Sri Paduka Maharaja Batara Guru beliaulah nantinya merupakan keturunan dari Raja dua bersuami istri Sri Gunaperia Darma Patni dengan Sri Udayana Warma Dewa. Tahun 911 – 929 dengan kerajaan beliau bertempat di BEDULU.
Adapun jaman pemerintahan Raja Sri Asta Asura Ratna Bumi Banten, dirasakan sangat adil oleh rakyatnya. Kesejahteraan sangat baik Negara amat aman, tentram dan kertaraharja, rakyat sangat menghormati beliau dan beliau sangat memperhatikan peringatan tempat-tempat suci, pemujaan – pemujaan para Dewa dan para leluhur. Kewajiban rakyat diatur sangat baik, seperti halnya penduduk yang tinggal dekat dengan Pura dan bekerja diPura secara rutin. Mereka dibebaskan dari tugas-tugas lain atau pajak-pajak. Maupun tagihan yang mengikat. Mereka yang tnggal disekitar Pura diwajibkan menyumbang saat ada upacara dipura seperti odalan, mereka diwajibkan menyerahkan 1 ekor babi, 20 butir telur, 5 tandan pisang ditanggung oleh kelompok pengayom.
Adapun bangunan-bangunan yang pernah beliau dirikan adalah sebuah kolam dengan perhiasan patung Makara Dewi dibangli bagian selatan dan sebuah pemujaan bernama uameru bertempat ditaman bali sekarang disebut taman Bali.
Setelah Raja Batara Guru wafat beliau digantikan oleh putranya yang bernama trunajaya, dengan gelar Walajaya Kertaningrat. Pemerintahan beliau sampai berakhir tahun 1324 Masehi.
Pada tahun yang sama dikerajaan Majapahit terjadi kerusuhan dimana Raj Kala Gemet bergelar Maha Raja Jayanegar. Dibunuh oleh Ratanca kemudian Ratanca dibunuh oleh Gajah Mada. Para pembantu terdekat disaat itu adalah Ki Bundan Tured, Ki Guntur, KiPindan Macan sedangkan yang menjabat sebagai hakim pengadilan adalah Kiyai Budhacara.
Dalam pemerintahan Sri Maha Raja Walajaya, kerajaan bali Aga sangat nyaman, tenang, tentram tak ada keributan. Rakyat benar-benar dapat merasakan kebahagiaan hidupnya berkat karunia Tuhan Yang Maha Esa.
Setelah Sri Walajaya Kertaningrat mangkat, kerajaan dipegang oleh Si Raja Asta Asura Ratna Bumi Banten sekitar tahun 1337 Masehi. Beliau menganut aliran agama Buddha Bairawa dalam jaman pemerintahan beliau inilah Bali mengalami pergeseran yang sangat mendasar. Dimana pada titik awal ini pula Bali mengalami perubahan-perubahan seperti kita ketahui sampai saaat ini.
Beliau memiliki patih-patih yang sangat kuat dan sakti dengan sederetan tokoh-tokoh perang yang sangat disegani oleh kerajaan yang ada diluar Bali, termasuk majapahit dibawah Patih Gajah Mada dengan Maha Patih Arya Damar dibawah raja Putri Tribuwana Tungga Dewi.
Karena kesohoran beliau dalam pemerintahan itu pula bali kuat. Aman, tentram sehingga Gajah Mada mengalami kesulitan untuk menghadapi Bali secara terbuka.
Tokoh – tokoh besar yang berperan dalam membantu Sri Asta Asura Ratna Bumi Banten antara lain yakni Patih kebo Iwo, yang tinggal dibelah batuh dan Ki Karang Buncing bapaknya Kiyai Tambiak tinggal dijimbaran, Kiyai Tunjung Tutur tinggal ditengenan, Kiyai Buwahan tinggal dibatur,. Akil perang yang tak kalah saktinya yaitu : Kiyai Tunjung Biru, tinggal ditianyar, Kiyai Kupang tinggal diseraya, Kiyai Walungsingkal tinggal di taro, Ki Pasung Grigis sebagai mangku Bumi tinggal ditengkulak. Diantara mereka inilah tanggung jawab keamanan, ketertiban dan ketata negaraan termasuk pelaksanaan adapt agama dilaksanakan/ dimana pendeta Siwa- Buddha aliran adapt lain bias berkembang, dan selalu diikut sertakan dalam kegiatan-kegiatan agama. Beliau sangat dicintai keluarganya dan dihormati. Pura Besakih merupakan Pura pusat mendapat perhatian paling utama oleh beliau. Juga pura-pura kahyangan lainnya tak pernah beliau lupakan. Berkat itulah dijaman pemerintahan beliau itu dibali mengalami jaman keemasan amat tertib dan tentram.
Kewibawaan beliau terlihat, terpancar dikala ada rapat-rapat dibalairung . beliau selalu mengenaakan pakaian, kain lembaran panjang. Berdodot sutera hiau, destar sutra putih, berselendang Mas Mutu Manikan. Dengan keris bertahtakan berlian. Sangat berwibawa dengan charisma beliau yang sangat Agung. Dalam siding-sidang rapat bersama mentri, punggawa, Manca beliau selalu meminta laporan tentang rakyatnya, kesejahteraan dan lingkungannya serta keamanan dimana masing-masing bertugas. Konon dijaman pemerintahan beliau benar-benar tertib dan aman, tak ada pencurian apalagi kerusuhan yang mengganggu ketertiban dan kenyamanan dalam pemerintahannya juga dalam kehidupan rakyatnya.
Gajah Mada telah mendengar peta kekuatan kerajaan Baliaga dibawah Maha Raja Sri Asura Ratna Bumi Banten dengan Patih yang mengelilinginya serta kesatuan kekuatan rakyatnya.
Tetapi sumpah palapa Gajah Mada harus terlaksana untuk menggempur Bali Aga secara terbuka tentu saja teramat sulit mengingat Kekuatan Bali Sangat Kuat dan terlatih.
Sedangkan Bali Aga sudah terang-terangan menentang kehendak tu Majapahit dibawah Putri Tri Buwana Tungga Dewi, karena Bali merasa lebih dekat dengan kerajaan Daha, Hubungan Bali dengan Daha sudah terjalin cukup lama dan sejak Guna Pria Dharma Patni Raja Putri dibali tahun 989-1001 karena pula itulah Bali bentrok dengan kerajaan Singasari tahun 1222 Masehi.
Dalam peperangan antara Bali Aga dengan Singasari bali dapat ditaklukan oleh Raja Kertanegara, tahun 1284, sedangkan Singasari dibawah Kertanegara ditaklukan oleh Daha tahun 1292 dan Bali langsung dibawah Daha Kembali.
Kemudian Daha diserang oleh kerajaan Majapahit dan jatuh pada tahun 1292 Masehi kemudian Daha ada dibawah kerajaan Majapahit. Dengan jatuhnya Daha ketangan Majapahit, Bali tidak mau tunduk kepada Majapahit yang menyebabkan Tri Buwana Tungga Dewi menjadi marah dan memberikan kuasa kepada Rakreran Patih Gajah Mada untuk mengatur siasat mencari cara agar Bali dapat ditundukan dibawah Majapahit.
Untuk memecahkan suasana yang pelik ini Bali juga mengadakan siding Mentri oleh sang Raja Asura Bumi Banten. Untuk mengambil keputusan sikap apa yang akan diambil kalau seandainya keputusan sikap dan harus seperti bagaimana sikap kerajaan bali kalau Majapahit mengganggu kedaulatan kerajaan bali tersebut. Seorang Patih Bernama Bima Sakti menganjurkan agar Bali tidak usah tunduk dibawah Majapahit, dan bali harus terbebas dari segala pengaruh kerajaan manapun. Dan sejak itu pula maka sang Raja Sri Asura Ratna Bumi Banten selalu menentang kehendak kerajaan Majapahit. Majapahitpun tidak tinggal diam dan terus mengatur siasat agar bali dapat ditaklukan dan tunduk terhadap kerajaan Majapahit.
Maha Patih Arya Damar dan Gajah Mada benar-benar merasa kwalahan menghadapi sikap kerajaan Bali Aga yang memiliki prinsip teguh dan kuat untuk menentang kerajaan Majapahit. Dalam siding selanjutnya Majapahit memutuskan untuk mengirim Gajah Mada ke Bali dan menghadap Sri Baginda Raja Bali Ratna Bumi Banten dengan cara yang telah diperhitungkan dan sangat benar-benar matang. Karena Raja Bali terkenal sangat cerdik dan sakti terlebih lagi ia dikelilingi oleh orang-orang yang sangat sakti.
Gajah Mada sudah menyusun strategi dan taktik paling jitu menghadapi kerajaan Bali aga tunduk dan berada dibawah Majapahit.
PATIH GAJAH MADA DIUTUS KEBALI DAN KEBO IWA TERTIPU
Dalam siding besar diistana Majapahit khusus membicarakan tentang membandelnya Raja Bali Age itu, dimana dia tidak pernah mau memperhatikan perintah-perintah kerajaan Majapahit, untuk itu diambil keputusan untuk mengirim Gajah Mada ke Bali untuk melaksanakan siasatnya, sambil melihat dari dekat tentang keadaan kekuatan pasukan Prajurit Bali Aga itu. Disamping itu Gajah Mada memang sudah bulat untuk melaksanakan tekadnya dalam mempersatukan seluruh nusantara dengan sumpah Palapanya agar benar-benar terlaksana.
Sebenarnya Sri Maharaja Bali Aga itu tidaklah seorang yang serakah kejam dan ganas seperti dalam dongeng. Tetapi itu diibaratkan oleh Gajah Mada karena keberanianya. Beliau satu-satunya raja yang berani menentang kehendak Gajah Mada sebaliknya beliau sangat dicintai dan dihargai oleh rakyatnya, taat dalam melaksanakan kegiatan keagamaan. Beliaulah raja yang dengan keras menentang Bali dijajah oleh kerajaan lain termasuk Majapahit.
Karena keberanian itulah maka Gajah Mada menyebut Bali diperintah oleh seorang Raja Lalim berbadan Manusia berkepala Raksasa yang beristana diBedahulu.
Demikian Gajah Mada mengibaratkan, karena memang raja Bali Aga itu satu-satunya yang berani menentang kehendak kerajaan Majapahit. Sehingga cita-cita Patih Gajah Mada untuk mempersatukan seluruh nusantara terhambat karena sikap Raja Bali tersebut.
Dalam siding maka diutuslah Patih Mada dengan membawa sepucuk surat dari kerajaan Majapahit kepada Kerajaan Bali, keberangkatan Patih Gajah Mada tidak terlihat mencolok, hanya ditemani beberapa orang penting disamping untuk menyelidiki keadaan pemerintahan bali sehingga tidak menimbulkan kecurigaan nantinya. Keberangkatannya menggunakan perahu layer, naik dari pelabuhan pantai bubat menyelusuri pantai kerajaan Pejarakan, terus kepelabuhan purancak sampai ketepi pantai jembrana, dan dilanjutkan hingga rombongan tiba dipantai Gumicik. Lalu diteruskan melalui jalan darat. Sehingga tersiar kabar bahwa ada serombongan penumpang perahu sedang berlabuh dipantai Gumicik dekat belah Batuh.
Mendengar laporan itu Kiyai Ki Pasung Grigis dalam keadaan siap tempur, mulailah Gajah Mada mengaturkan sembah ampun kepadanya.
Maafkan atas kedatangan hamba tanpa memberi kabar terlebih dahulu…. Hamba adalah utusan Majapahit bernama Patih Gajah Mada, kedatangan Hamba atas kehendak Ratu Tri Buwana Tungga Dewi untuk menyampaikan sepucuk surat kepada Sri Raja Bali.
Mendengar penjelasan Patih Gajah Mada maka mengertilah Ki Pasung Grigis bahwa kedatangannya kebali tidak ada niat buruk. Disamping mereka tidak membawa perlengkapan perang sebagaimana lazimnya angkatan perang. Ki Pasung grigis menyambut tamunya dengan sangat sopan. Disamping itu ia juga mendengar tentang kemasyuran Patih Gajah Mada di Majapahit.
Baik Patih mada untuk itu mari akan kami antarkan untuk menemui dan menghadap Sri Baginda Raja, alangkah baiknya jika bersinggah dulu ke Belah Batuh untuk beristirahat sejenak, tinggal dirumahnya ki Kebo Iwa, sedangkan saya sendiri akan melapor terlebih dahulu untuk memberitahukan Sri Baginda Raja agar dapat kami atus sebagaimana semestinya.
Setelah tiba di Belah Batuh maka Patih mada dan rombongan diperkenalkan dengan Kiyai Karang Buncing, bapaknya ki Kebo Iwa.
Sedangkan Ki Pasung grigis meneruskan perjalanannya menuju keBedahulu. Dirumah ki Kebo Iwa mereka beristirahat dan berbincang-bincang dengan Ki Karang Buncing dan Ki Kebo Iwa, bahwa sebenarnya kedatangannya ke Bali ini tidak lain bukan untuk mengikat persaudaraan, dimana Ratu Majapahit ingin menghadiahkan seorang utri untuk dinikahkan dengan Ki Kebo iwa. Dari percakapan tersebut membuat Ki Kebo Iwa dan ki Karang Buncing terpengaruh dan timbukl simpati dalam hatinya karena tutur kata Dari Gajah Mada yang sangat Halus dan sopan seperti mereka sangat bersahabat. Begitu terpengaruhnya sehingga mereka tidak memiliki prasangka bahwa maksud dan tujuan dibalik itu adalah sangat buruk.
Ki Pasung Grigis setelah sampai di Bedahulu langsung melaporkan kedatangan Patih Mada sebagai utusan Ratu Majapahit dan menjelaskan juga hasil pemeriksaannya terhadap Rombongan Patih Mada sebagaimana ketentuan penerimaan tamu. Mendengar penjelasan secara terperinci maka Maha Raja Sri Asura Ratna Bumi Banten memerintahkan kepada Ki Pasung Grigis untuk mengantar tamunya kebedahulu dengan segera.
Berangkatlah Ki Pasung Grigis untuk membawa Utusan Raja Majapahit tersebut. Sesampainya di kerajaan Puri Bedahulu semua rombongan Patih Gajah Mada menunduk, berjalan membungkuk sebagai penghormatan kepada Raja Bali guna mengambil simpati sang Raja Bali tersebut.
Melihat sikap Sopannya maka Raja Bali Menghormatinya sehingga ia dipanggil untuk mendekat.
“ Hai Patih Mada kemarilah mendekat padaku, berita apa yang kau bawa untukku, ceritakanlah jangan engkau merasa sungkan”. Patih Mada pun menghaturkan sembah kepada Sri Baginda Raja Bali.
“ Ampun Paduka Tuanku, hamba dating diutus oleh Paduka Tuanku Putri Ratu Majapahit untuk menghadap tuanku Raja. Mempersembahkan sepucuk surat, Hamba mohon Ampun jikalau hamba membuat kekeliruan dalam tatacara menghadap kehadapan Sri Baginda Raja Agung. Inilah surat beliau Mohon Paduka Raja Menerimanya”.
Akhirnya Rajapun Menerima Surat tersebut dan membaca isinya yang diluar dugaan semula :

1. Majapahit memohon dengan sangat agar Kerajaan Bali jangan menyerang kerajaan Majapahit.
2. Mohon Hubungan yang dahulu diteruskan sebagai hubungan persaudaraan.
3. Mohon kesediaannya agar Ki Kebo Iwa diperkenankan untuk pergi ke Jawa untuk dinikahkan dengan seorang putrid yang kecantikannya sudah terkenal ditanah Jawa.

Semua itu adalah bukti dari ketulusan hati Raja Majapahit untuk menjalin persahabatan dan persaudaraan antara kedua belah pihak. Agar terwujud ketenangan dan ketentraman yang didambakan.
Melihat isi surat yang lemah lembut dan sangat sopan dan ditanda tangani Ratu Kerajaan Majapahit dengan tak ada prasangka maka Raja Bali menerima semua permintaan dari kerajaan Majapahit. Dan semuapun bergembira mengetahui isi dari surat tersebut.
Untuk merayakanya diadakanlah pesta penyambutan untuk menghormati tamunya yang penting itu. Dalam kesempatan itu beliau memerintahkan Ki Kebo Iwa untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk pergi Kejawa dan menerima Hadiah dari Kerajaan Majapahit tersebut yaitu seorang putrid cantik untuk ia nikahkan.. kemudian berangkatlah mereka menuju tanah jawa bersama rombongan Patih Mada dari Majapahit tersebut.
KI KEBO IWA TERTIPU
TERNYATA SURAT UNDANGAN DAN HADIAH TERSEBUT HANYALAH SIASAT DAN TIPU MUSLIHAT DARI KERAJAAN Majapahit untuk mengelabui Kerajaan Bali dan Ki Kebo Iwa karena merupakan bagian dari taktik Patih gajah mada untuk menyingkirkan Ki Kebo Iwa dari Kerajaan Bali. Karena menurut penyelidikan bahwa Patih yang paling sakti mandra guna tersebut adalah Ki Kebo Iwa karena ia tidak bias mati oleh senjata apapun, walau bagaimanapun kesaktian dan keampuhan pusaka tidak mampu membunuhnya. Sehingga Majapahit memiliki keragu-raguan untuk menyerang Bali. Setelah sampai ditanah jawa Ki Kebo Iwa Terbunuh oleh kesaktiannya sendiri. Dikarenakan tipu muslihat Patih gajah Mada.
Dalam perjalanan Ki Kebo Iwa kejawa dan bagaimana Ki Kebo Iwa dapat menyelamatkan diri dari usaha Gajah Mada menenggelamkan dia kedasar laut nanti akan ditemui dalam babad Bedahulu dan babad Kebo Iwa.
Setelah ki Kebo Iwa Meninggal maka Majapahit tidak merasa ada kesulitan dan keraguan untuk menyerang Bali Aga meskipun masih banyak terdapat tokoh sakti lainnya.
Sejarah BALI Tahun 800 SM
Tonggak awal rentangan masa Bali Kuno, adalah abad VIII. Atas dasar itu maka periode sebelum tahun 800 sesungguhnya tidak termasuk masa Bali Kuno. Gambaran umum periode tersebut diharapkan dapat menjadi landasan pemicaraan mengenai masa Bali Kuno, sehingga terwujud uraian lebih utuh. Gambaran periode sebelum tahun 800 itu meliputi masa prasejarah Bali dan berita-berita asing tentang Bali, khususnya yang berasal dari Cina.
Peninggalan-peninggalan masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana ditemukan di desa Sembiran dan pesisir timur serta tenggara Danau Batur. Peninggalan-peninggalan itu berupa kapak perimbas, kapak genggam, pahat genggam, dan serut (Soejono, 1962 : 34-43 ; Heekeren, 1972 : 46). Tahap kehidupan berikutnya, yakni masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, meninggalkan bukti-bukti di Gua Selonding, Gua Karang Boma I, Gua Karang Boma II yang terletak di perbukitan kapur Pecatu (Kabupaten Badung). Bukti-bukti itu antara lain berupa alat-alat dari tulang dan tanduk rusa, serta sisa-sisa makanan, yakni kulit-kulit kerang dan siput laut, serta gigi babi rusa (Sutaba, 1980 : 15). Bukti-bukti yang serupa ditemukan juga di Goa Gede Nusa Penida (Suastika, 2005 : 30-31).
Pada masa bercocok tanam, jumlah penduduk Bali telah bertambah dan persebarannya semakin meluas. Peninggalan benda-benda budaya mereka ditemukan di Palasari, Pulukan, Kediri, Kerambitan, Bantiran. Kesiman, Ubud, Payangan, Pejeng, Selulung, Selat, Nusa Penida, dan beberapa desa di Kabupaten Buleleng. Benda-benda itu pada umumnya berupa alat-alat dan perkakas yang digunakan sehari-hari, misalnya kapak dan pahat batu persegi empat panjang. Artefak-artefak tersebut di dapat sebagai temuan lepas, dalam arti, bukan merupakan hasil ekskavasi yang sistematik (Sutaba, 1980 : 19 ; cf. Suastika, 1985 : 30-33).

Hal lain yang perlu dikemukakan ialah masalah religi. Pelbagai peninggalan tradisi megalitik, misalnya tahta batu, dolmen, menhir, arca yang bercorak megalitik, dan hiasan kedok muka pada beberapa sarkofagus mencerminkan bahwa perkembangan religi pada masa itu telah maju. Pemujaan terhadap arwah leluhur yang bersemayam di puncak-puncak gunung atau tempat-tempat suci lain dan kekuatan-kekuatan alam tertentu yang diyakini dapat mempengaruhi kehidupan mereka berkembang semakin subur, Bahkan, dapat dikatakan bahwa sebagian besar dari benda-benda peninggalan tradisi megalitik itu sampai dewasa ini masih disucikan dan digunakan sebagai media memohon kesejahteraan masyarakat (Sutaba, 1995 : 88).
Hal yang menarik perhatian pula ialah sejumlah tahta batu diberikan nama khas Bali, misalnya Pelinggih Bhatara Puseh, Bhatara Dalem, Jero Wayan, Jero Nongan, Pesimpangan Batu Belig, dan Pesimpangan Tamba Waras (Kusumawati, 1989 : 107-222 ; Sutaba, 1995 : 101-102). Lebih jauh mengenai kekhasan Bali, R.P. Soejono menunjuk pola hias kedok muka pada beberapa sarkofagus serta sistem kubur sekunder dengan tata letak bagian-bagian rangka yang sangat teratur dan betul-betul tidak ada persamaannya di tempat lain. Dikatakannya bahwa hiasan kedok muka itu, selain berfungsi dekoratif, juga melambangkan kekuatan gaib yang berfungsi melindungi roh orang yang meninggal dari gangguan roh-roh jahat (1977 : 30-169 ; 246-270 ; 1993 : 7). Selain itu, beliau juga terkesan dengan pahatan yang menggambarkan alat vital wanita dan kerbau pada sarkofagus yang ditemukan di Ambiarsari dan Munduk Tumpeng. Dalam kaitan dengan pahatan-pahatan tersebut, khususnya yang terdapat pada sarkofagus di Munduk Tumpeng, beliau menyatakan bahwa hal itu memperkuat pemahaman mengenai fungsi sarkofagus tipe itu, yakni untuk menopang pencapaian tujuan hidup setelah seseorang lepas dari lingkaran kelahiran kembali (rebirth). Roh orang itu akan diangkut oleh kerbau yang berfungsi sebagai kendaraan bagi roh orang yang meninggal agar sampai di alam arwah dengan selamat dan cepat. Dengan kata lain, sarkofagus Munduk Tumpeng memiliki makna ganda, yakni kelahiran kembali dan kehadiran dengan selamat di alam para leluhur (19… : 183).
Mudah dipahampi bahwa sejalan dengan perkembangan atau kemajuan dalam bidang religi akan muncul pula tokoh-tokoh yang mempunyai kemampuan khusus dalam bidang spiritual, misalnya para pemimpin upacara-upacara magis-religius. Kedudukan mereka terhormat dan peranannya sangat besar. Kedudukan dan peranannya seperti itu menyebabkan mereka menjadi tokoh-tokoh yang amat disegani oleh masyarakat (cf. Bertling, 1974 : 11-15).
Gambaran di atas diharapkan dapat memberikan pemahaman bahwa manusia Bali pada akhir masa perundagian, atau menjelang masa sejarah, telah mencapai tingkat kehidupan sosial ekonomi, sosial budaya, religi, teknologi, dan sebagainya yang relatif maju dan kompleks. Dengan bekal itulah, mereka menyongsong kehadiran pengaruh budaya-budaya asing berikutnya, yang sebagaimana akan diketahui, dengan arus terkuat berasal dari daratan India.
Keterangan-keterangan tentang Bali yang terdapat dalam sumber-sumber Cina perlu dikemukakan pula di sini. Nama-nama dalam kitab Cina, yang oleh sementara orang pernah diidentifikasikan sebagai Bali, adalah P’o-li, Dva-pa-tan, dan Mali. Toponim P’o-li dikenal sejak pemerintahan dinasti Liang (502-556). P’o-li dikatakan terletak di sebuah pulau di sebelah tenggara Kanton Groeneveldt, 1960 : 80). Nama P’o-li juga terbaca dalam kitab sejarah dinasti Sui 9581-617). Di sana disebutkan bahwa jika seseorang berlayar dari Gau-chi (Annam Utara) ke arah selatan, maka akan sampai di Chih-tu, kemudian di Tan-tan, dan akhirnya di P’o-li (Groeneveldt, 1960 : 82), Keterangan seperti itu terbaca pula dalam kitab sejarah baru dinasti T’ang (618-908), dengan sedikit tambahan yang menyatakan bahwa di sebelah timur P’o-li terletak Lu-cha dengan adat-istiadat sama dengan P’o-li (Groenveldt, 1960 : 83-84 ; Slametmulyana, 1981 : 126).
Informasi tentang P’o-li yang berbeda jika dibandingkan dengan keterangan-keterangan di atas terdapat dalam kitab sejarah kuno dinasti T’ang (618-908). Penulis kitab itu mencatat bahwa P’o-li merupakan batas sebelah timur kerajaan Ho-ling. Lebih jauh, Ho-ling (Ka-ling) dikatakan terletak di sebuah pulau di lautan sebelah selatan. Di sebelah timur Ho-ling terletak P’o-li, di sebelah barat To-po-teng, di sebelah utara Chen-la (Kamboja), dan di sebelah selatan adalah lautan (Groenveldt, 1960 : 12 cf. Sumadio, dkk., 1990 : 281).
Sesungguhnya, identifikasi P’o-li dengan Bali sangat diragukan, bahkan tidak disetujui oleh kebanyakan ahli. Identifikasi P’o-li dengan Bali pernah dikemukakan oleh P. Pelliot. Akan tetapi, ditambahkannya pula bahwa P’o-li mungkin identik dengan Kalimantan. Pendapat yang menyatakan bahwa P’o-li terletak di Kalimantan, atau sama dengan Kalimantan, dikemukakan juga oleh E. Bretschneider dan Dato Sir Roland Braddel (Sumadio, dkk., 1990 : 281).
Ahli-ahli sebagian besar mengemukakan bahwa P’o-li terletak di wilayah Sumatra. Menurut G. Schlegel, P’o-li identik dengan Asahan di pantai timur laut Sumatra Utara, dan menurut W.P. Groeneveldt, P’o-li berada di pantai utara Sumatra. Hsu Yu-ts’iao mengindentifikasi negeri P’o-li dengan Pantai di pantai timur laut Sumatra dan V. Obdeyn menyatakan P’o-li terletak di pulau Bangka. Menurut J.L. Moens, P’o-li pada aad VI sama dengan Palembang, Sedangkan P’o-li pada abad VII adalah untuk menyatakan sebuah kerajaan yang terletak di Jawa. Dapat ditambahkan bahwa menurut G.E. Gerini, P’o-li terletak di pantai barat Semenanjung Malaya (Sumadio, dkk., 1990 : 281).
Pendapat-pendapat yang telah dikemukakan cenderung menyatakan bahwa P’o-li merupakan kerajaan besar, atau paling tidak terletak di wilayah yang luas. Kecenderungan itu sesuai dengan gambaran yang di dapat dari kitab sejarah dinasti Sui. Menurut penulis kitab itu, panjang kerajaan P’o-li dari timur ke barat adalah selama empat bulan perjalanan, dan dari utara ke selatan selama 45 hari perjalanan (Groeneveldt, 1960 : 82). Apabila memang benar P’o-li merupakan kerajaan besar, maka tidak sesuai dengan Bali yang relatif kecil.
Toponim yang lebih cocok diidentifikasikan dengan Bali, menurut bagian lain pendapat Groeneveldt, adalah Dva-pa-tan yang terbaca dalam kitab sejarah kuno dinasti T’ang. Negeri itu dikatakan terletak di sebelah selatan Kamboja dalam jarak dua bulan pelayaran, atau di sebelah timur Ho-ling (Ka-ling). Adat istiadatnya sama dengan Ho-ling. Di sana, tiap bulan padi sudah dapat dituai, dan penduduk menulis pada daun rontal. Jika ada orang mati, mayatnya diberi perhiasan emas, ke dalam mulutnya dimasukkan sepotong emas, lalu dibakar disertai dengan bau-bauan yang harum (Groeneveldt, 1960 : 12-58). Di dalam kitab Chu-fan-chih bagian Su-chi-tan, Bali disebut dengan nama Mali. Lebih jauh, penulis kitab Yao-i-chin-lue mencatat nama P’eng-li yang mungkin dapat diidentifikasikan dengan Pali atau Mali (Sumadio, dkk., 1990 : 282).

* Bali Tahun 800-882

Dokumen tertua ditemukan di Bali, dalam hal ini di Pejeng, ialah prasasti-prasasti berbahasa Sansekerta pada tablet-tablet tanah liat yang semula tersimpan di dalam stupika-stupika (stupa-stupa kecil) dari tanah liat. Prasasti-prasasti itu berupa mantra-mantra agama Buddha yang terkenal dengan nama ye-te-mantra. Prasasti-prasasti sejenis ini ditemukan juga di Pura Pegulingan Basangambu, Tampaksiring dan situs Kalibukuk Buleleng. Bunyi teksnya sebagai berikut.
“Ye dharmā hetu-prabhawā
Hetun tesān tathāgato hyawadat
Tesāñca yo nirodha
Ewamwādi mahāśramanah” (Goris, 1948 : 3).
Artinya :
“Keadaan tentang sebab-sebab kejadian itu, sudah diterangkan oleh Tathagata (Buddha), Tuan mahatapa itu telah menerangkan juga apa yang harus diperbuat orang supaya dapat menghilangkan sebab-sebab itu”5
Mantra sejenis itu tertulis pula di atas pintu Candi Kalasan (di Jawa Tengah) yang berasal dari abad VIII atau tahun 700 Śaka (778). Berdasarkan kesamaan tipe aksara mantra-mantra di kedua tempat itu, maka mantra-mantra agama Buddha di Pejeng diduga berasal dari abad VIII pula (Goris, 1949 : 3-4 ; cf. Budiastra, 1980/1981 : 36-38).
Di desa Pejeng ditemukan pula fragmen-fragmen prasasti berbahasa Sansekerta dengan huruf Bali Kuno. Keadaannya sudah sangat tua. Di antara bagian-bagian yang masih terbaca antara lain manuśasana… (pada fragmen d), …mantramārgga… (pada fragmen g), …śiwas (…) ddh … (pada fragmen h), yang secara lengkap kiranya berbunyi … śiwasiddhanta …, dan …sakalabhuwanakrt … (pada fragmen k), yakni nama lain untuk Wiśwakarman. Hal-hal itu memberi petunjuk bahwa isi prasasti tersebut pada umumnya bersifat keagamaan, dalam hal ini agama Hindu sekte Śiwa ; bahkan agama itu rupanya telah bersifat mantris atau tanris (Stutterheim, 1929 : 62).
Fragmen-fragmen tersebut di atas tidak ada yang berangka tahun. Stutterheim, setelah melakukan studi komparatif antara huruf fragmen-fragmen prasasti itu dengan huruf prasasti-prasasti di Jawa, terutama di Jawa Tengah, dapat menyimpulkan bahwa di antara fragmen-fragmen itu ada yang berasal dari masa sebelum tahun 800 Saka, atau sekitar permulaan abad IX (Stutterheiom, 1929 : 62).
Fragmen-fragmen tersebut di atas tidak ada yang berangka tahun. Stutterheim, setelah melakukan studi komparatif antara huruf fragmen-fragmen prasasti itu dengan huruf prasasti-prasasti di Jawa, terutama di Jawa Tengah, dapat menyimpulkan bahwa di antara fragmen-fragmen itu ada yang berasal dari masa sebelum tahun 800 Saka, atau sekitar permulaan abad IX (Stutterheim, 1929 : 59). Jika dugaan itu benar, maka berarti, di daerah Pejeng (Gianyar) pada waktu itu, agama Buddha dan agama Hindu sekte Siwa telah mempunyai pemeluk masing-masing, yang hidup saling menghormati dengan penuh toleransi.

* Bali Tahun 882-955

Rentangan waktu tahun itu disebut pula periode Singhamandawa, karena hampir seluruh prasasti dari periode itu dikeluarkan di Panglapuan (panglapwan) di Singhamandawa. Pada bagian awal periode tersebut, yaitu tahun 882-914, terbit tujuh buah prasasti berbahasa Bali kuno, yakni prasasti Sukawana AI (804 Saka), Bebetin AI (818 Saka), Trunyan AI (833 Saka), Trunyan B (833 Saka), Bangli, Pura Kehen A, Gobleg, Pura Desa I (836 Saka), dan Angsri A. Ketujuh prasasti itu tidak memuat nama raja atau pejabat yang mengeluarkannya (Goris, 1954a : 53-62).
Prasasti pertama pada intinya berisi tentang pengembalian fungsi kesucian ulan (semacam bangunan suci keagamaan) di wilayah perkebunan di bukit Citamani (sekarang Kintamani). Tampaknya, ulan itu sempat digunakan sebagai tempat lalu-lalang bagi orang-orang yang pulang pergi ke kebun atau sawah ladangnya. Kebijakan yang ditempuh penguasa ialah menyuruh Senapati danda, bhiksu Siwakangsita, Siwanirmala, dan Siwaparjna membangun pertapaan yang dilengkapi pasanggrahan (satra) di bagian lain bukit Cintamani. Selanjutnya, orang-orang yang lalu-lalang di daerah itu agar tidak lagi menggunakan jalan setapak yang melewati kompleks ulan melainkan melalui jalan di kompleks pertapaan. Batas-batas wilayah pertapaan ditetapkan. Prasasti ini juga memuat ketetapan pembebasan para bhiksu dari tugas dan pajak-pajak tertentu, serta aturan pembagian harta warisan. Berdasarkan prasasti itu, dapat diketahui bahwa di bawah pucuk pemerintahan paling sedikit ada empat jabatan tinggi kerajaan, yaitu sarbwa, dinganga, nayakan, makarun, dan manuratang ajna. Jabatan-jabatan ini tetap bertahan selama periode Singhamandawa, yakni ketika prasasti-prasasti dikeluarkan di panglapuan di Singhamandawa (882-942). Setelah itu, jabatan-jabatan tinggi kerajaan rupanya semakin meningkat jumlahnya.
Prasasti Bebetin AI berkenaan dengan desa (banwa) bharu, atau secara lebih lengkap kuta di banwa bharu, yang bermakna desa bharu yang berbenteng. Dalam prasasti itu dikatakan bahwa pada suatu ketika desa itu diserang atau dirusak oleh perampok. Banyak penduduk mati terbunuh atau terluka dan banyak pula yang mengungsi ke desa-desa tetangga. Setelah keadaan aman, merekapun kembali ke desa bharu. Demi kelengkapan desa, khususnya dalam bidang spiritual, raja menyuruh pejabat nayakan pradhana yaitu kumpi ugra dan bhiksu Widya Ruwana untuk memimpin pembangunan kuil Hyang Api, dengan batas-batas wilayah yang telah ditentukan. Prasasti ini memuat pula aturan-aturan pembagian harta warisan dan ketetapan mengenai tugas atau kewajiban serta hak-hak penduduk yang berdiam di sana.
Desa bharu rupanya terletak di pesisir pantai utara Pulau Bali,6 dan merupakan salah satu pelabuhan yang ada pada waktu itu. Dugaan terakhir ini didasarkan atas adanya ketentuan yang mengatur saudagar-saudagar dari luar yang berdagang di sana dan perahu-perahu yang mengalami kerusakan termuat dalam prasasti itu. Bagian teks prasasti Bebetin AI mengenai hal itu, sebagaimana terbaca pada lembaran Iib.3-4 berunyi sebagai berikut.
”… anada tua banyaga turun ditu, paniken (baca : paneken) di hyangapi, parunggahna, ana mati ya tua banyaga, perduan drbyana prakara, ana cakcak lancangna kajadyan papagerrangen kuta …” (Goris, 1954a : 55).
Artinya :
”…Jika ada saudagar berlabuh (turun) di sana, barang-barang persembahannya supaya dihaturkan kepada kuil Hyang Api, (jika) ada mati (di antara) saudagar itu, segala harta miliknya agar dibagi dua, (jika) perahunya rusak, supaya dijadikan pagar untuk memperkuat benteng, …”
Isi kedua prasasti berikutnya, yaitu prasasti Trunyan AI dan Trunyan B, khususnya pada lembaran Ib-IIa.4, pada dasarnya sama. Keduanya mengenai izin yang diberikan kepada penduduk desa Turunan untuk mendirikan bangunan suci bagi Bhatara Da Tonta. Selanjutnya, penduduk wajib membayar iuran dan melaksanakan kewajiban-kewajiban tertentu untuk keperluan bangunan suci itu. Sebagai imbangannya, mereka dibebaskan dari pajak-pajak serta kewajiban-kewajian tertentu yang lazim ditunaikan bagi raja.
Pada bagian lain prasasti Trunyan AI dinyatakan bahwa jika ada utusan raja melakukan persembahyangan di sana pada bulan Asuji, utusan itu wajib diberikan makanan dan minuman. Prasasti itu menyinggung pula upacara di kuil Guha Mangurug Jalalingga serta kewajiban-kewajiban penduduk desa Hasar, Halang Guras, Pungsu, dan Panumbahan dalam kaitan dengan upacara-upacara di kuil Sang Hyang di Turunan (Bhatara Da Tonta) dan Guha Mangurug Jalalingga.
Bagian lebih lanjut, prasasti Trunyan B antara lain memuat perihal iuran yang wajib dibayar oleh penduduk desa Air Rawang di sebelah timur teluk Danau Batur untuk keperluan upacara Sang Hyang di Turunan. Di sana disebutkan pula bahwa setiap bulan Bhadrawada (Agustus-September), Bhatara Da Tonta harus disucikan dengan air Danau Batur, kemudian dibedaki kuning, serta dihiasi dengan cincin bepermata dan anting-anting. Petugas yang berwenang melaksanakan hal-hal itu adalah Sahayan Padang dari desa Air Rawang. Pada bagian akhir prasasti Trunyan B terbaca kalimat kutukan yang ringkas (Goris, 1954a : 58-59).
Prasasti Pura Kehen A berkenaan dengan bangunan suci (dang udu) Hyang Karimama yang berada di desa Simpat Bunut. Bangunan suci itu tampaknya sempat kurang terurus. Dalam rangka memulihkan fungsinya, raja menugasi bhiksu Siwarudra, Anantasuksma, dan Prabhawa serta penduduk desa Simpat Bunut agar melakukan perbaikan serta perluasan (pamasamahyan) pertapaan di Hyang Karimama itu. Batas-batasnya kemudian ditetapkan. Para bhiksu yang berdiam di sana walaupun pada prinsipnya wajib tunduk pada aturan yang berlaku, juga tetap mendapat hak istimewa (previlise), misalnya para bhiksu tidak boleh diwajibkan ikut bergotong royong mengangkut kayu dan bambu, tidak boleh dilibatkan dalam masalah-masalah jual beli, pemungutan pajak, dan pencelupan benang. Dalam prasasti itu juga ditentukan bahwa pertapaan di Hyang Karimama dibolehkan memiliki cabang di desa lain, asalkan tidak lebih dari 20 buah (Goris, 1954a : 60-61).
Penguasa tertinggi pada periode Singhamandawa memberikan perhatian sangat besar terhadap bidang spiritual keagamaan. Hal itu dapat diketahui antara lain berdasarkan isi kelima prasasti yang telah dibicarakan dan isi prasasti Gobleg, Pura Desa I yang berangka tahun 836 Saka. Dalam prasasti ini disebutkan bahwa bangunan suci di Bukittunggal yang bernama Indrapura, yang berada dalam wilayah desa Air Tabar, agar diperbaiki dan diperluas sesuai dengan rencana. Raja menugasi sejumlah tokoh untuk memimpin pelaksanaannya. Prasasti ini juga memuat aturan pembagian harta warisan dan keringanan dari tugas-tugas tertentu yang didapat oleh penduduk.
Prasasti Angsri A keadaannya sangat aus. Dari bagian yang terbaca dapat diketahui antara lain nama bangunan suci Hyang Api dan Hyang Tanda. Kedua bangunan suci itu mendapat persembahan bagian harta warisan keluarga yang putus keturunan (Goris, 1954a : 62).
Berdasarkan hasil pembacaan terhadap prasasti-prasasti yang berasal dari masa Bali Kuno selanjutnya dapat diketahui dua puluh tokoh raja atau ratu dan seorang rajapatih yang pernah menduduki pucuk pemerintahan di Bali. Di antaranya, ada yang memerintah sendiri dan ada pula yang memerintah bersama-sama dengan tokoh lain, yakni suami, permaisuri, atau ibu surinya. Urutan pemerintahan mereka secara kronologis dapat dilihat pada lampiran 1 karya tulis ini dan uraian ringkas mengenai masa pemerintahan masing-masing pucuk pemerintahan itu disajikan sebagai berikut.
Nama raja Bali Kuno yang tercantum pertama kali dalam prasasti adalah Sri Kesari Warmadewa. Prasasti-prasasti atas nama raja itu, atau yang dapat diidentifikasikan demikian, adalah prasasti Blanjong (835 Saka),dan prasasti Penempahan,8 dan prasasti Malet Gede (835 Saka)9. Keadaan ketiga prasasti itu telah aus. Banyak bagiannya tidak terbaca lagi secara utuh, termasuk nama raja yang disebut di dalamnya. Bagian nama raja yang terbaca pada isi A.4 prasasti Blanjong adalah … sri kesari … sedangkan pada sisi B.13 terbaca … sri kesariwarmma (dewa) (Goris, 1954a : 64-65). Bagian nama raja dalam prasasti Penempahan yang masih terbaca adalah … sri ke … dan pada prasasti Malet Gede berbunyi … sri kaesari … (Kartoatmodjo, 1977 : 150-151 ; cf. Damais, 1959 : 964).
Dalam jajaran raja-raja Bali Kuno, Sri Kesari Warmadewa merupakan raja pertama yang menggunakan unsur warmadewa sebagai bagian gelarnya. Berdasarkan kenyataan itu maka dapat dikatakan bahwa Sri Kesari merupakan cikal-bakal dinasti (vamsakara) Warmadewa di Bali. Raja-raja dari dinasti ini, sebagaimana akan diketahui, berkuasa di Bali paling sedikit selama satu abad, yakni sejak awal abad X sampai dengan awal abad XI.
Hal lain yang menarik perhatian ialah ketiga prasasti tersebut pada hakikatnya menggambarkan kemenangan raja Sri Kesari terhadap musuh-musuhnya. Sebagai akibat prasasti-prasasti itu telah aus, hanya dua di antara musuh-musuh itu dapat diketahui, yakni di Gurun dan di Suwal (Goris, 1954a : 65). Perlu ditambahkan bahwa lokasi Gurun dan Suwal sampai dewasa ini belum diketahui secara pasti. Di antara para ahli, ada yang berpendapat bahwa Gurun mungkin sama dengan Lombok dewasa ini. Pendapat lain menyatakan bahwa Gurun mungkin identik dengan Nusa Penida (Goris, 1954b : 243 ; cf. Kartoatmodjo, 1977 : 152).
Raja Sri Kesari Warmadewa diganti oleh Sang Ratu Sri Ugrasena. Raja Ugrasena mengeluarkan prasasti-prasastinya tahun 837-864 Saka (915-942). Masa pemerintahan raja ini hampir sezaman dengan masa pemerintahan Pu Sindok di Jawa Timur (Goris, 1948 : 5). Ada sebelas prasasti, semuanya berbahasa Bali Kuno, dikeluarkan oleh raja Ugrasena, yakni prasasti-prasasti Banjar Kayang (837 Saka), prasasti Les, Pura Bale Agung (837 Saka), Babahan I (839 Saka), Sembiran AI (844 Saka), Pengotan AI (846 Saka), Batunya AI (855 Ska), Dausa, Pura Bukit Indrakila AI (857 Saka), Serai AI (858 Saka), Dausa, Pura Bukit Indrakila BI (864 Saka), prasasti Tamblingan Pura Endek I (-), dan Gobleg, Pura Batur A (Goris, 1954a : 8-11 ; 63-72).
Berdasarkan prasasti-prasasti itu dapat diketahui sejumlah kebijakan penting dilakukan oleh raja Ugrasena. Beberapa di antaranya dikemukakan berikut ini. Keringanan dalam pembayaran pajak diberikan kepada desa Sadungan dan Julah, karena desa itu belum pulih benar dari kerusakan akibat diserang perampok. Dengan alasan sama, bahkan desa Kundungan dan Silihan dibebaskan dari kewajiban bergotong royong untuk raja. Selain itu, raja juga berkenan menyelesaikan perselisihan antara para wajib pajak di wilayah perburuan dengan pegawai pemungut pajak, yakni dengan menetapkan kembali secara jelas jenis dan besar pajak yang mesti dibayar oleh penduduk (Goris, 1954a : 63-68 ; 70-71).
Berkaitan erat dengan aspek kehidupan beragama, Raja Ugrasena memberikan izin kepada penduduk desa Haran dan Parcanigayan untuk memperluas pasanggrahan dan bangunan suci Hyang Api yang terletak di desanya masing-masing. Keberadaan penduduk desa Tamblingan sebagai jumpung Waisnawa ”sekte (?) Waisnawa”, serta kaitannya dengan bangunan suci Hyang Tahinuni, juga mendapat perhatian raja. Prasasti Gobleg, Pura Batur A yang memuat hal itu teksnya tidak lengkap sehingga rincian ketetapan mengenai sekte tersebut tidak sepenuhnya dapat diketahui (Goris, 1954a : 68-72).
Dapat ditambahkan bahwa pada tahun 839 Saka (917), sebagaimana tercatat dalam prasasti Babahan I yang tersimpan di desa Babahan (Tabanan), raja Ugrasena mengadakan perjalanan ke Buwunan (sekarang Bubunan) dan ke Songan 10. Dalam kunjungan itu, raja memberikan izin kepada kakek (pitamaha), di Buwunan dan di Songan melaksanakan upacara bagi orang yang mati secara tidak wajar, jika saatnya telah tiba. Baginda juga menetapkan batas-batas wilayah pertapaan yang terletak di bagian puncak bukit Pttung.
Setelah mangkat, diduga Ugrasena dicandikan di Air Madatu dan dikenal dengan sebutan sang ratu siddha dewata sang lumah di air madatu (cf. Goris, 1954b : 211). Epitet ini terbaca dalam prasasti Raja Tabanendra Warmadewa yang ditemukan di desa Kintamani. Dalam prasasti itu dikatakan bahwa raja Tabanendra, bersama-sama dengan permaisurinya, menyuruh sejumlah tokoh agar memugar atau memperluas pasanggarahan di Air Mih yang dibangun pada masa pemerintahan raja dengan epitet tersebut di atas (Goris, 1954a : 76).
Jika epitet itu memang benar untuk Raja Ugrasena setelah mangkat, maka tindakan raja dan permaisurinya tersebut di atas menunjukkan betapa hormatnya mereka kepada Ugrasena. Lebih lanjut, hal itu dapat digunakan sebagai dasar pendapat yang menyatakan bahwa walaupun Sang Ratu Sri Ugrasena tidak secara eksplisit menggunakan bagian gelar warmadewa, baginda pun tergolong anggota dinasti Warmadewa.

* Bali Tahun 955-1343

Pada periode ini diketahui sejumlah raja yang pernah memerintah Bali, tetapi belum ditemukan nama ibu kota yang menjadi pusat pemerintahannya. Raja pertama pada periode ini adalah Sang Ratu Sri Haji Tabanendra Warmadewa yang memerintah bersama-sama dengan permaisurinya, yaitu Sri Subhadrika Dharmadewi, tahun 877-889 Saka (955-967) Mereka menggantikan raja Ugrasena.
Ada empat prasasti yang memuat pasangan gelar suami-istri itu, yakni prasasti-prasasti Manik Liu AI (877 Saka), Manik Liu BI (877 Saka), Manik Liu C (877 Saka), dan Kintamani A (899 Saka) 11. Keempat prassati itu tidak lengkap. Tiga yang pertama, selain ditemukan di tempat yang sama juga berkenaan dengan masalah pokok yang sama, yaitu pemberian izin oleh raja kepada Samgat Juru Mangjahit Kajang, dan anak bandut yang berdiam di desa Pakuwwan dan Talun (Goris, 1954a : 74-75). Mereka dibebaskan dari tugas bergotong royong dan pelbagai pajak, kecuali pajak rot. Isi pokok prasasti Kintamani A, yang menurut Goris berkaitan dengan prasasti Kintamani B, telah disinggung di depan, yakni berkenaan dengan perintah Raja Tabanendra Warmadewa kepada sejumlah tokoh agar menangani pemnugaran pesanggarahan di Air Mih. Dalam Prasasti Kintamani B disebutkan pula bahwa pasanggrahan di Dharmarupa merupakan cabang pasanggrahan di Air Mih (Goris, 1954a : 77).
Raja berikutnya adalah Jayasingha Warmadewa. Raja ini dapat diketahui dari sebuah prasasti, yaitu prasasti Manukaya (882 Saka) (Stutterheim, 1929 : 68-69 ; Goris 1954a : 75-76 ; Damais, 1955 : 224-225). Dalam prasasti itu dimuat perintah raja untuk memugar Tirtha di (Air) Mpul (sekarang Tirtha Empul di Tampaksiring) yang setiap tahun mengalami kerusakan akibat derasnya aliran air. Setelah pemugaran itu, diharapkan kedua telaga yang ada menjadi kuat dan bertahan lama.
Hal yang menarik perhatian ialah ternyata prasasti Manukaya terbit pada masa pemerintahan Tabanendra Warmadewa bersama permaisurinya. Masalah ini belum dapat dijelaskan dengan bukti-bukti yang akurat. Berkenaan dengan hal itu, L.C. Damais menegaskan bahwa pembacaan angka tahun 882 Saka sudah benar (Goris, 1965 : 180). Untuk sementara, yang dapat dikemukakan di sini ialah terbitnya “prasasti sisipan” itu tampaknya berlangsung dalam suasana damai, dalam arti tidak dilatarbelakangi oleh sifat permusuhan, peristiwa kudeta, atau semacamnya. Dugaan itu dikemukakan karena belum terdapat petunjuk adanya perselisihan internal di antara anggota dinasti yang telah berkuasa.
Pada tahun 897 Saka muncul raja yang bergelar Sang Ratu Sri Janasadhu Warmadewa. Gelar ini terbaca dalam prasasti Sembiran AII (897 Saka) (Brandes, 1889 : 46-48 ; Goris, 1954a : 77-79 ; Damais, 1955 : 226). Itulah satu-satunya prasasti atas nama baginda. Prasasti tersebut kembali mengenai desa Julah kuno. Menurut prasasti itu, penduduk Julah yang kembali dari pengungsiannya diizinkan memperbaharui isi prasastinya. Selanjutnya, ketentuan dalam prasasti itu harus dipatuhi dan jangan diubah-ubah lagi. Dalam prasasti itu antara lain ditetapkan bahwa jika ada kuil, pekuburan, pancuran, permandian, prasada, dan jalan raya di wilayah itu mengalami kerusakan, supaya diperbaiki serta dibiayai secara bergilir oleh penduduk desa Julah, Indrapura, Buwundalm, dan Hiliran. Jika pertapaan di Dharmakuta diserang oleh perampok, supaya seluruh penduduk Julah keluar rumah lengkap dengan senjata untuk menolong pertapaan itu (kapwa ta ya turun tangga saha sanjata, tulungen to patapan di dharmakuta) (Goris, 1954a : 78-79).
Raja Janasadhu Warmadewa diganti oleh Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi Satu-satunya prasasti sebagai sumber sejarah ratu ini adalah prasasti Gobleg, Pura Desa II (905 Saka) (Goris, 1954a : 79-80 ; Damais, 1955 : 226-227). Ratu ini memberi izin kepada penduduk desa Air Tabar, yang merupakan pamong kuil Indrapura di Bukittunggal di wilayah desa Air Tabar, untuk memperbaharui prasastinya (mabharin pandaksayan na).
Ratu ini tidak menggunakan identitas dinasti Warmadewa. Keadaan ini mengundang timbulnya sejumlah pendapat. Berdasarkan terpakainya kata Sri Wijaya dalam gelar sang ratu, P.V. van Stein Callenfels (1924 : 30) berpendapat bahwa kemungkinan ratu itu berasal dari kerajaan Sriwijaya di Sumatra. Dengan kata lain, hal itu menunjukkan adanya perluasan kekuasaan Sriwijaya ke Bali. Pada mulanya, Goris menyetujui pendapat itu.
Pada tahun 1950, dalam artikelnya yang berjudul ”De Stamboom van Erlangga”, J.L. Moens menghubungkan ratu itu dengan kerajaan Jawa Timur (1950 : 138). Damais secara lebih tegas mengemukakan bahwa ratu itu adalah putri Pu Sindok yang bernama Sri Isana Tunggawijaya.12 Pendapatnya itu didasarkan pada adanya jabatan-jabatan wadihati, makudur, dan pangkaja yang disebutkan dalam prasasti ratu itu, di samping sejumlah jabatan tinggi yang telah lazim di Bali. Ketiga jabatan itu adalah khas Jawa (1952 : 85-86 ; 1955 : 227).
Ratu Sri Wijaya Mahadewi diduga mangkat pada tahun 911 Saka (989). Tampuk pemerintahan di Bali kemudian dipegang oleh pasangan Sri Gunapriyadharmapatni dan Sri Dharmodayana Warmadewa.
Dalam prasasti Pucangan dikatakan bahwa Gunapriyadharmapatni, yang semula bernama Mahendradatta, adalah putri Sri Makutawangsawardhana, cucu perempuan pasangan Sri Isana Tunggawijaya dan Sri Lokapala, atau cicit Pu Sindok. Mahendradatta kemudian nikah dengannya adalah Udayana, seorang pangeran yang lahir dari keluarga raja (dinasti) yang masyhur. Dari pasangan itu lahirlah Erlangga atau Airlangga (Kern, 1917 : 93). Berdasarkan keterangan itu, dapat diketahui bahwa Mahendradatta adalah seorang putri berasal dari Jawa Timur, keturunan dinasti Isana. Jika dikaitkan dengan keterangan dalam prasasti-prasasti Bali tahun 911-923 Saka yang menyatakan bahwa Sri Gunapriyadarmapatni memerintah bersama-sama dengan suaminya, yaitu Sri Dharmadoyana Warmadewa, maka dapat diketahui bahwa tokoh terakhir inilah yang dimaksud dengan Udayana dalam prasasti Pucangan. Lebih lanjut, yang dimaksud dengan dinasti termasyhur dalam prasasti itu adalah dinasti Warmadewa. Kendati demikian, masih ada sejumlah pendapat mengenai asal-usul Udayana.
Menurut F.D.K. Bosch,, Udayana adalah anak seorang putri Campa atau Kamboja. Kekacauan yang terjadi di negeri itu, sekitar tahun 970, menyebabkan sang putri yang dalam keadaan hamil itu melarikan diri ke Jawa dan melahirkan putranya di sana. Putranya itu adalah Udayana yang kemudian menikah dengan Mahendradatta (1984 : 554-556 ; 1961 : 96-97). Moens tidak setuju dengan hipotesis Bosch itu. Dalam artikelnya ”De Stamboom van Erlangga”yang terbit pada tahun 1950, Moens antara lain mengemukakan bahwa ada dua tokoh historis Udayana. Pertama, Udayana yang lahir sebagai akibat hubungan inses antara Isana (Sindok) dengan putri kandungnya (selanjutnya disebut Udayana I). Kedua, Udayana yanng merupakan putra Udayana I sebagai hasil pernikahannya dengan Ratnawati (selanjutnya disebut Udayana II). Udayana I tetap hidup di Jawa Timur dan setelah mangkat, pada tahu 899 Saka dicandikan di Jalatunda. Udayana II dinikahkan dengan Mahendradatta. Pasangan ini kemudian dinobatkan sebagai pemegang tampuk pemerintahan di Bali. Moens juga mengemukakan bahwa Mahendradatta sesungguhnya menikah dua kali, pertama kali dengan Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur, melahirkan Airlangga, dan kedua kalinya dengan Udayana II (1950 : 124). Pada dasarnya, Goris menyetujui pendapat Moens tentang adanya dua tokoh Udayana, tetapi beliau menambahkan bahwa Airlangga dilahirkan di Bali pada tahun 913 Saka (991) sebagai hasil, pernikahan Mahendradatta dengan Udayana yang memerintah di Bali (1948 : 7 ; 1957 : 19).
Pendapat Bosch dan Moens di atas perlu ditinjau kembali. Tadi telah disinggung bahwa dalam prasasti Pucangan, Mahendradatta dikatakan menikah dengan Udayana, seorang pangeran dari dinasti termasyhur. Tidak perlu disangsikan lagi bahwa yang dimaksud dengan Udayana itu adalah Sri Dharmodayana Warmadewa. Lagi pula, seperti telah diketahui, dinasti Warmadewa memang telah berkuasa di Bali sejak jauh sebelum Sri Dharmodayana Warmadewa, yaitu sejak tahun 835 Saka (914) dengan Sri Kesari Warmadewa sebagai cikal bakalnya. Berdasarkan kenyataan itu, mudah dipahami bahwa penulis prasasti tidak perlu menegaskan kedinastian serta daerah asal Udayana yang memang sudah sangat dikenal pada waktu itu. Sebaliknya, sangat sukar dipahami bahwa seorang asing yang merupakan putra seorang pelarian, dapat diterima dengan mudah dalam jajaran anggota suatu dinasti, dalam hal ini dinasti Warmadewa. Lagi pula, penerimaan tanpa reaksi aktif dari anggota dinasti tersebut, khususnya dari putra mahkota yang mempunyai hak sah atas takhta dan mahkota kerajaan Bali adalah hal yang mustahil.
Pertimbangan-pertimbangan di atas, begitu pula keterangan-keterangan dalam prasasti Pucangan dan sejumlah prasasti Bali yang dikemukakan sebelumnya, dapat berfungsi sebagai landasan kuat bagi pendapat yang menyatakan bahwa Udayana, suami Gunapriyadharmapatni, adalah seorang putra Bali dari dinasti Warmadewa. Pendapat ini sesuai dengan pendapat Krom (1956 : 119) yang dikemukakan jauh sebelum muncul pendapat Bosch dan Moens.
Telah dikatakan bahwa praasti-prasasti pasangan ”suami-istri” itu terbit tahun 911-923 Saka (989-1001). Prasasti-prasasti itu adalah prasasti Bebetin AI (911 Saka), Serai AII (915 Saka), Buwahan A (916 Saka), Sading A (923 Saka) dan prasasti Tamblingan Pura Endek II (Goris, 1954a : 80-88).
Prasasti Bebetin A berkenaan dengan desa (banwa) Bharu. Dikatakan bahwa desa itu, yang telah disebutkan dalam prasasti Bebetin A (818 Saka), kembali mengalami perampokan sehingga kondisi sosial ekonominya menjadi sangat lemah. Pasangan suami-istri itu pun memberikan keringanan dalam sejumlah kewajiban kepada desa tersebut. Keringanan semacam itu diberikan juga kepada penduduk di daerah perburuan (anak mabwatthaji di buru). Hal itu dapat diketahui dari prasasti Serai AII.
Isi prasasti Buwahan A sangat menarik perhatian. Pada intinya, prasasti itu memuat izin pasangan Gunapryadharmapatni dan Udayana kepada desa Bwahan yang terletak di pesisir Danau Batur untuk lepas dari desa induknya, yakni Kdisan. Desa Bwahan, yang tampaknya semakin berkembang, diizinkan berpemerintahan sendiri (sutantra i kawakannya). Segala kewajiban supaya dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Dalam prasasti Sading A dibicarakan tentang desa Bantiran. Dalam prasasti itu dikatakan bahwa banyak penduduk desa itu terpaksa meninggalkan rumah. Hal itu disebabkan oleh tamu-tamu yang datang ke desa itu berlaku tidak sopan dan menimbulkan kekacauan. Setelah keadaan aman, penduduk desa Bantiran disuruh kembali ke desanya. Hak dan kewajibannya diatur dan mereka diizinkan membuka lahan untuk memperluas sawah ladangnya.
Pada tahun 933 Saka terbit sebuah prasasti atas nama Udayana sendiri, tanpa permaisurinya, yakni prasasti Batur, Pura Abang A (Goris, 1954a : 88-94 ; Damais, 1955 : 185). Rupanya Gunapriyadharmapatni mangkat tidak lama sebelum tahun 933 Saka. Prasasti ini diberikan kepada desa Air Hawang (sekarang desa Abang) yang terletak di pesisir Danau Batur. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa pada tahun 933 Saka wakil-wakil desa Air Hawang menghadap raja Udayana dengan perantaraan pejabat Rakryan Asba, yaitu Dyah Manjak. Mereka menyampaikan bahwa karena kelemahan kondisi desanya, penduduk tidak mampu memenuhi pembayaran pajak-pajak serta cukai-cukai tertentu dan tidak dapat ikut bergotong royong atau kerja bakti untuk raja. Lebih lanjut, mereka memohon pengurangan atau keringanan dalam menunaikan kewajiban-kewajiban tersebut.
Untuk memeriksa keadaan sebenarnya di lapangan (baca : di desa Air Hawang), raja mengutus Dang Acarya Bajantika, Dang Acarya Nisita, Dang Acarya Bhacandra dan Senapati Kuturan, yaitu Dyak Kayop ke desa itu. Hasil temuannya kemudian didiskusikan, dibahas, atau dianalisis dalam sidang paripurna para pejabat tinggi kerajaan, bahkan tidak sekali dua kali, tetapi lebih dari itu. Setelah segala sesuatunya dipertimbangkan, akhirnya raja menyetujui permohonan wakil-wakil penduduk desa itu. Bagian teks prasasti mengenai proses persidangan itu berbunyi :
“…tuwulwi ta sira kabaih mapupul, malapkna kinabehan, tan pingsan pingrwa, winantah winalik blah, hana pwantuk ning malapkna, an kasinggihan sapanghyang nikang anak thani, …” (Goris, 1954a : 89).
Artinya :
“… kemudian beliau sekalian berkumpul, bersidanng bersama-sama, tidak sekali dua kali, diperdebatkan dan dibahas, maka tercapailah hasil persidangan, yakni dipenuhinya hal-hal yang menjadi permohonan penduduk desa itu, …”
Selain prasasti-prasasti yang telah disebutkan, masih ada lima buah prasasti singkat (short inscription) yang terbit atau diduga terbit sebelum Udayana turun taktha, yaitu prasasti-prasasti Besakih, Pura Batumadeg (nomor lama 908), Ujung Pura Dalem (nomor lama 357) berangka tahun 932 Saka, Gunung Penulisan A (933 Saka), Gunung Penulisan B, dan Sangsit B (nomor lama 437) berangka tahun 933 Saka (Goris, 1954a : 46, 94, 105-107 ; Damais, 1955 : 229).
Prasasti Besakih, Pura Batu Madeg sesunguhnya berangka tahun 1393 Saka tetapi di dalamnya disebutkan sebuah prasasti lebih tua yang memakai candra sangkala nawasanga-apit-lawang (929 Saka). Prasasti bertahun 929 Saka itulah yang terbit pada masa pemerintahan Gunapriyadharmapatni dan Udayana. Penduduk setempat menyebut prasasti itu Mpu Bradah, yakni sebutan untuk tokoh Mpu Baradah yang terkenal dalam cerita Calon Arang (Goris, 1965 : 23 ; cf. Poerbatjaraka, 1926 : 115-145).
Sekarang timbul pertanyaan, mengapa prasasti itu disebut Mpu Bradah? Mengenai hal ini, Goris berpendapat bahwa pada tahun 929 Saka Mpu Baradah mengunjungi Bali untuk pertama kali.13 Kunjungan itu mungkin dalam kaitan dengan (1) kelahiran Marakata, (2) kelahiran Anak Wungsu, atau kemangkatan Gunapriyadharmapatni. Goris cenderung berpendapat bahwa Gunapriyadharmapatni mangkat ketika melahirkan putra bungsunya yaitu Anak Wungsu sehingga kedatangan Mpu Baradah ke Bali pada tahun 929 Saka betul-betul mengenai urusan yang sangat penting (Goris, 1957 : 20). Setelah mangkat, Gunapriyadharmapatni dicandikan di Burwan, dan Udayana yang diduga mangkat tidak lama setelah tahun 933 Saka dicandikan di Banu Wka.
Mereka diganti oleh Ratu Sri Ajnadewi yang mengeluarkan prasasti Sembiran AIII pada tahun 938 Saka (Brandes, 1889 : 48-49 ; Damais, 1955 : 229-230). Sampai kini belum terdapat petunjuk jelas mengenai hubungan ratu ini dengan pendahulunya, begitu pula hubungannya dengan tokoh lain. Dalam mengupayakan penjelasannya, akan dilihat kembali bagian berbahasa Jawa Kuno pada prasasti Pucangan. Dari bagian itu diketahui bahwa pada tahun 938 Saka (1016) kerajaan yang diperintah Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur diserang oleh raja Wurawari sehingga mengalami malapetaka mahahebat (pralaya). Serangan itu bertepatan dengan saat diselenggarakan upacara pernikahan Airlangga dengan putri Dharmawangsa Teguh. Dikatakan lebih lanjut bahwa Jawa pada waktu itu bagaikan lautan api dan banyak orang terkemuka gugur dalam peristiwa tersebut. Airlangga, yang berumur 16 tahun, dapat menyelamatkan diri dengan lari ke hutan diiringi pengikutnya yang sangat setia, yaitu Narottama (Sumadio dkk., 1990 : 173).
Tahun pralaya itu ternyata bertepatan dengan munculnya Ratu Sri Sang Ajnadewi sebagai pemegang tampuk pemerintahan di Bali. Berdasarkan kenyataan ini, dapat dikembangkan uraian hipotetik sebagai berikut. Mudah dipahami bahwa ketika dilangsungkan upacara pernikahan Airlangga dengan putri Dharmawangsa Teguh, Udayana sebagai seorang ayah, yakni ayah Airlangga, hadir di keraton Jawa Timur. Bahkan mustahil baginda ikut gugur dalam peristiwa pralaya yang telah disebutkan, dan hal itu sekaligus mengakibatkan taktha kerajaan Bali lowong secara tiba-tiba. Putra mahkota Bali pada waktu itu, yaitu Marakata, kemungkinan masih terlalu muda untuk dinobatkan sebagai raja. Pendapat itu didasarkan atas pertimbangan bahwa jika Airlangga pada tahun 1016 baru berumur 16 tahun, maka Marakata sebagai adiknya, setua-tuanya baru berumur 15 tahun, bahkan kenyataannya boleh jadi lebih muda dari itu.
Untuk memecahkan masalah lowongnya takhta kerajaan Bali, keluarga istana rupanya sepakat mengangkat seorang wali, yaitu Ratu Sri Sang Ajnadewi. Perwalian itu berlangsung sampai tidak lama sebelum Marakata mengeluarkan prasasti yang pertama pada tahun 944 Saka (1022). Apakah wali itu berasal dari Jawa Timur ataukah keluarga istana Bali? Memang dapat dipahami, jika wali itu berasal dari dan diangkat oleh keluarga istana Jawa Timur, namun kemungkinan itu sangat kecil. Kemungkinan itu dikatakan demikian karena mudah pula dipahami bahwa kondisi kerajaan di Jawa Timur pada waktu itu masih sangat lemah, situasinya masih sangat kacau, bahkan mungkin masih dalam suasana berkabung. Jika dugaan itu benar, maka kemungkinan lain yang dapat dikemukakan ialah Sri Sang Ajnadewi adalah anggota dinasti yang sedang berkuasa di Bali. Mungkin bibi Marakata atau tokoh lain yang memang pantas menduduki posisi sebagai wali.
Prasasti Sembiran A III yang dikeluarkan oleh ratu itu kembali mengenai desa Julah. Dikatakan bahwa desa ini diserang lagi oleh penjahat. Banyak penduduk mati, ditawan musuh, atau mengungsi ke desa lain. Penduduk semula sebanyak 300 kepala keluarga, tersisa hanya 50 kepala keluarga. Oleh karena itu, sang ratu pun memberikan keringanan kepada mereka dalam hal kerja gotong royong dan pembayaran beberapa jenis drwyahaji. Kewajiban mereka dalam kaitan dengan bangunan sakral di Dharmakuta pun dikurangi pula (Goris, 1954a : 95). Dapat ditambahkan bahwa secara harfiah drwyahaji berarti “milik raja”(Zoetmulder, 1982a : 416). Akan tetapi, menurut konteksnya istilah itu bermakna pendapatan kerajaan yang berasal dari pajak, cukai, denda, iuran, dan sebagainya, yang kemudian digunakan untuk membiayai berbagai pengeluaran kerajaan.
Telah dikatakan bahwa Marakata, gelar lengkapnya Paduka Haji Sri Dharmawangsawardhana Marakatapangkajasthanottunggadewa, mengeluarkan prasastinya yang pertama yakni prasasti Batuan, pada tahun 944 Saka. Prasasti-prasasti lain yang memuat gelar raja itu ialah prasasti Sawan A I = Bila I (nomor lama 353) yang berangka tahun 945 Saka, Tengkulak A (945 Saka), dan Bwahan B (947 Saka)14.
Prasasti pertama diberikan kepada penduduk desa Baturan (sekarang Batuan di Kabupaten Gianyar). Wakil-wakil desa itu menghadap raja serta menyampaikan bahwa semenjak masa pemerintahan raja almarhum yang dicandikan di Er Wka (yang dimaksud adalah Udayana), penduduk desa Baturan ditugasi memelihara kebun raja di Er Paku dan kuil di desa Baturan. Raja Marakata memaklumi betapa beratnya tugas-tugas itu, maka sebagai imbalannya, penduduk pun dibebaskan dari pajak-pajak tertentu dan diizinkan lepas dari desa Sukhawati (sekarang Sukawati).
Isi pokok prasasti Sawan A I pada dasarnya sama dengan isi pokok prasasti Batuan, yang permohonan penduduk mengenai pengurangan beban drwyahaji dan tugas bergotong royong. Permohonan itu diajukan wakil-wakil desa Bila karena merasa cukup berat memenuhi kewajiban-kewajiban semula sebagai akibat warganya berkurang secara drastis, yakni dari semula 50 kepala keluarga menjadi hanya 10 kepala keluarga. Permohonan itu disetujui oleh raja Marakata. Prasasti Sawan A I juga memuat ketetapan tentang pembagian harta warisan, perbuatan-perbuatan yang tidak boleh dilakukan oleh pegawai kerajaan yang berkunjung ke desa Bila, dan kewajiban penduduk bagi pegawai itu.
Prasasti Tengkulak A menyatakan bahwa pada tahun 945 Saka, wakil-wakil desa Songan Tambahan menyampaikan kepada raja Marakata bahwa sejak masa pemerintahan Gunapriyadharmapatni dan Udayana Warmadewa, mereka ditugasi menyelenggarakan atau memelihara katyagan (asrama pendeta) Amarawati di tepi sungai Pakrisan. Sejak titah turun, penduduk desa itu belum pernah diberikan prasasti yang memuat rincian kewajiban serta hak mereka. Supaya segala sesuatunya menjadi jelas, sehingga mereka dapat meneruskan pengabdian kepada raja dan ratu almarhum, begitu pula kepada raja yang tengah memerintah, maka mereka memohon kepada Raja Marakata agar berkenaan menganugerahkan prasasti kepada mereka. Raja pun memenuhi permohonan itu. Dalam prasasti itu ditegaskan bahwa penduduk supaya tetap melaksanakan tugas-tugasnya sebagaimana sediakala (magehakna sapurbwastitinya nguni) (Ginarsa, 1961 : 5).
Berdasarkan prasasti Buwahan B (947 Saka) dapat diketahui bahwa penduduk desa Bwahan kekurangan lahan tempat menggembalakan ternak dan mencari kayu api. Wakil-wakil desa itu memohon agar diizinkan membeli sebidang hutan dekat desanya, yang semula digunakan sebagai tempat berburu oleh raja. Dikatakan bahwa raja mengabulkan permohonan tersebut. Lebih lanjut ditegaskan, agar Nayakan Buru (pejabat yang mengurusi masalah perburuan) tidak mengganggu gugat kegiatan penduduk di wilayah yang telah dibeli itu.
Masih ada sejumlah prasasti singkat yang terbit pada masa pemerintahan raja Marakata, yaitu prasasti-prasasti Kesian, Pura Sibi I (945 Saka), Kesian, Pura Sibi II (948 Saka), Kesian Pura Sibi III (948 Saka), Kesian, Pura Sibi IV dan Bangli, Pura Kehen B (nomor semula 356) tanpa angka tahun.15 Oleh karena data historis dalam masing-masing prasasti itu relatif kurang berarti bagi penggambaran aktivitas atau kebijakan raja Marakata maka pembicaraan prasasti-prasasti itu tidak diperpanjang di sini.
Dalam gelar Marakata yang telah disebutkan di depan, tidak terdapat unsur warmadewa tetapi ada unsur dharmawangsa yang mengingatkan kepada tokoh Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur. Berdasarkan kenyataan itu, apakah berarti Marakata tidak termasuk anggota dinasti Warmadewa? Keraguan itu menjadi hilang dengan adanya keterangan dalam prasasti Tengkulak A. Dalam prasasti itu dikatakan bahwa Marakata adalah putra raja Almarhum yang dicandikan di Air Wka (yakni Sri Dharmodayana Warmadewa). Keterangan itu juga berarti bahwa Marakata tergolong anggota dinasti Warmadewa. Bagian teks prasasti mengenai hal itu berbunyi :
“… mangkai pwan menget ikanag karaman i songan tambahan sapanambahan, an wka haji dewata sang lumah ring air wka sajalu stri, prasiddha kumalilirig kulit kaki, siniwi ring desa banten molih tekang karaman maprarthana ri bhatara, yata hetunya papulung rahi manambah i paduka haji, umajaraken sakramanya nguni mwang pagehnyanugraha haji dewata, … (Ib.5-IÏa.2)” (Ginarsa, 1961 : 4).
Artinya :
”… kini ingatlah para tetua desa Songan Tambahan yang terikat dalam satu kesatuan pemujaan, bahwa putra raja almarhum yang icandikan di Air Wka beserta permaisurinya, telah berhasil mewarisi (takhta kerajaan) dari garis keturunan, laki-laki, dimuliakan di wilayah Banten (Bali). Supaya mereka dapat melanjutkan pengabdian kepada betara (di Air Wka) maka mereka bersama-sama menghadap paduka raja, mempermaklumkan segala sesuatu yang mereka laksanakan pada masa-masa lalu, dalam upaya mengukuhkan anugrah (baca : titah) raja yang telah almarhum,…”
Kutipan di atas menunjukkan bahwa menurut garis keturunan dari pihak ayah, Marakata termasuk dinasti Warmadewa. Akan tetapi, kenyataannya unsur warmadewa tidak digunakan dalam gelar raja itu. Sebaliknya dalam gelar itu terdapat unsur dharmawangsa, yang sebagaimana telah dikatakan, mengingatkan kepada tokoh Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur. Keadaan demikian dapat dipahami, jika diingat bahwa ibu suri Marakata, yakni Gunariyadharmapatni adalah putri Jawa Timur. Bukan mustahil Gunariyadharmapatni bersaudara kandung dengan Dharmawangsa Teguh, atau paling tidak berkerabat dekat. Unsur dharma yang terdapat dalam nama masing-masing tokoh itu dapat digunakan sebagai faktor penunjang pendapat di atas.
Dalam menanggapi gelar Marakata yang tanpa unsur warmadewa, lebih jauh dapat dikemukakan bahwa hal itu tidak mesti dipandang sebagai bukti bahwa Marakata mengingkari dirinya termasuk dinasti Warmadewa. Sebagai putra Udayana, tentu baginda menyadari kedudukannya dalam dinasti itu. Penggunaan unsur dharmawangsa dalam gelarnya, agaknya hanya masalah pilihan belaka.
Raja Marakata diganti oleh adiknya, yaitu Anak Wungsu yang memerintah tahun 971-999 Saka (1049-1077). Gelarnya sebagai raja, begitu pula nama kecil tokoh ini sesungguhnya tidak diketahui secara pasti, kecuali hendak diyakini bahwa Anak Wungsu juga merupakan nama kecil tokoh itu. Secara harfiah anak wungsu berarti ”anak bungsu”, jadi hanya menyatakan urutan kelahiran belaka. Dalam hal ini, tokoh itu adalah anak bungsu suami-istri Udayana dan Gunapriyadharmapatni. Pernyataan mengenai hal tersebut terbaca dalam sejumlah prasasti yang dikeluarkan oleh Anak Wungsu. Dalam prasasti Pandak Bandung (933 Saka) misalnya, terbaca bagian yang berbunyi ”… ”paduka haji, anak wungsunirakalih bhatari lumah i burwan, bhatara lumah i banu wka, …”(Stein Callenfels, 1926 : 14), yang artinya ”… paduka raja anak bungsu baginda berdua (suami-istri), yaitu ratu yang dicandikan di Burwan dan raja yang dicandikan di Banu Wka, …”
Dikaitkan dengan keterangan dalam prasasti Pucangan yang menyatakan bahwa Airlangga adalah putra suami-istri tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa suami-istri itu berputra tiga orang, yakni Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Hal ini juga berarti bahwa Airlangga dan Anak Wungsu, seperti halnya Marakata, termasuk dinasti Warmadewa pula.
Raja Anak Wungsu memerintah Bali cukup lama, bahkan terlama di antara raja-raja pada zaman Bali Kuno, yakni selama tidak kurang dari 28 tahun. Ada 31 buah prasasti dikeluarkannya, atau yang dapat diidentifikasikan sebagai prasasti-prasasti yang terbit pada masa pemerintahannya. Sembilan belas di antara prasasti-prasasti itu memuat ”gelar” seperti disebutkan, yang lainnya tanpa muatan ”gelar” , baik karena prasasti yang bersangkutan tidak lengkap atau karena tergolong prasasti singkat. Masa pemerintahannya yang lama serta prasasti yang dikeluarkan cukup banyak dapat digunakan sebagai petunjuk bahwa raja itu memerintah dengan bijaksana dan kerajaan dalam keadaan stabil. Dugaan itu ditunjang pula oleh sejumlah ungkapan yang terbaca dalam prasasti, yang pada intinya menyatakan kepekaan serta kearifan Anak Wungsu dalam melaksanakan pemerintahan.
Dalam beberapa prasasti dikatakan bahwa Anak Wungsu adalah raja yang penuh belas kasihan (gong karunya pwa pinaka swabhawa paduka haji) dan selalu memikirkan kesempurnaan serta kemakmuran kerajaan yang diperintah atau dilindunginya (nityasa kumingking sakaripurnnakna nikanang rat rinaksanira atau nityasa kumingking … subhiksa nikang rat rinaksanira). Oleh karena Anak Wugsu sangat menjunjung tinggi serta mengagungkan ajaran agama atai kebajikan (sangka ri kadharmestan paduka haji) maka baginda diibaratkan sebagai penjelmaan dharma (kebajikan) (saksat dharmam urti/saksat dharmatmajam urti/tuhutuhu dharmam urti) yang senantiasa memikirkan kesempurnaan atau terpeliharanya bangunan-bangunan suci keagamaan (nityasa kumingking sakaripurnnakna sang hyang sarbwa dharma) (cf.Sumadio dkk., 1990 : 301-302). Dapat dimengerti bahwa ungkapan-ungkapan itu mungkin bersifat hiperbolis, namun unsur kebenaran yang terkandung di dalamnya, yakni bagian yang bersifat realistis, patut mendapat perhatian yang wajar.
Telah dikatakan bahwa ada 31 buah prasasti berasal dari masa pemerintahan Raja Anak Wungsu. Jika isi pokok prasasti-prasasti itu diulas satu per satu, walaupun secara ringkas, maka akan menghasilkan uraian panjang yang dalam beberapa hal dapat bersifat pengulangan. Untuk menghindari hal itu, di bawah ini disajikan klasifikasi prasasti-prasasti itu berdasarkan sambandha-nya atau alasan yang melatarbelakangi dikeluarkannya prasasti yang bersangkutan. Ada enam alasan yang telah diketahui, yakni sebagai berikut.

1. Adanya permohonan penduduk, dengan perantara wakil-wakilnya, agar prasasti semula yang berupa ripta 16 diubah menjadi prasasti tembaga (tampraprasasti). Permohonan demikian berasal dari wakil-wakil penduduk desa (karaman) Turunan, Cintamani, Batwan, Pa (r) canigayan, Julah, para wajib pajak (anak mabwathaji), di Silihan dan Landungan, warga desa yang bertugas menjahit pakaian (mangjahit kajang) di Buyan, Anggas, serta Taryungan, dan wakil-wakil penduduk desa Bila.17
2. Adanya permohonan membuka lahan baru untuk dijadikan perdikan (sima). Permohonan semacam itu diajukan oleh wakil-wakil desa Lutungan, tokoh-tokoh pendiri (purusakara) subak Rawas, dan wakil-wakil desa Bwah.18
3. Adanya pejabat memungut rwyahaji melebihi ketentuan yang tercantum dalam prasasti. Hal ini diketahui dari laporan wakil-wakil pajak di daerah perburuan. Dikatakan bahwa para pemimpin dalam bidang-bidang tertentu (nayaka) dan para pengawas (caksu paracaksu) melakukan pungutan melebihi ketentuan dalam prasasti yang dianugrahkan raja almarhum. Wakil-wakil penduduk memohon agar masalah itu diluruskan oleh Raja Anak Wungsu. 19
4. Adanya permohonan agar ketetapan yang tercantum dalam prasasti semula ditambahi atau dilengkapi. Wakil-wkail penduduk desa Bharu (banwa Bharu) mengajukan permohonan ini dengan tujuan supaya kewajiban dan hak mereka menjadi lebih jelas.26
5. Adanya permohonan agar penduduk dianugrahi prasasti sebagai pegangan pelaksanaan hak dan kewajiban. Penduduk desa (karaman) Sukhapura telah sejak lama dituasi menyelenggarakan sebuah kompleks percandian (sanghyang dharma), tetapi belum dianugrahi prasasti. Supaya tugas-tugas mereka jelas, maka mereka memohon agar Raja Anak Wungsu berkenaan mencantumkan dalam sebuah prasasti.27
6. Adanya permohonan agar penduduk lazim menghaturkan bahan-bahan mentah untuk keperluan upacara dan menjamu pejabat atau petugas tertentu. Permohonan ini diajukan oleh wakil-wakil desa Gurguran karena mereka kekurangan tenaga untuk memasak bagi keperluan-keperluan tersebut di atas.22

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa semua permohonan tersebut di atas dikabulkan oleh Raja Anak Wungsu, setelah melalui tahapan pertimbangan serta pembahasan yang seksama. Dalam prasasti yang bersangkutan dicantumkan pula ketetapan mengenai berbagai aspek kehidupan, misalnya aspek sosial ekonomi, sosial budaya, dan keagamaan.
Raja Anak Wungsu diganti oleh Sri Walaprabhu yang memerintah tahun 1001-1010 Saka ( 1078-1088). Gelar lengkap raja ini berbunyi Sri Maharaja Sri Walaprabhu, terbaca dalam prasasti Babahan II (nomor lama 501). Goris menduga Prasasti Ababi A (nomor lama 447) dan Klandis (nomor lama 448) adalah juga dikeluarkan oleh raja Walaprabhu (1954a : 26 ; 1965 : 33). Perlu diperhatikan bahwa raja-raja Bali Kuno, raja inilah yang pertama menggunakan gelar maharaja setelah ratu Sri Wijaya Mahadewi yang sudah dibicarakan di depan.
Aktivitas pemerintahan raja ini dapat dikemukakan antara lain sebagai berikut.
Dalam prasasti Klandis dinyatakan bahwa raja Walaprabhu mengizinkan desa Pakwan lepas dari desa Bangkala tetapi harus tetap menunaikan pembayaran drwyahaji sebagaimana sediakala. Betapa keagungan wibawa raja itu dapat diketahui dari ucapan-ucapan yang menggambarkan bahwa baginda bagaikan perwujudan dharma (kebajikan) yang melindungi dunia (saksat niran dharmmatmajam urti jagatpaloka), sebagai tempat rakyat berlindung (saranasraya ring praja), dan laksana satu-satunya payung yang meneduhi seluruh wilayah Pulau Bali (pinakekachatra ning balidwipamandala) (Tuuk dan Brandes, 1885 : 619-624).
Prasasti Ababi A dianugerahkan kepada karaman i Hara Babi sedangkan prasasti Babahan II, seperti halnyan prasasti Babahan I, berkenaan dengan dharma i ptung. Kedua prasasti itu tidak lengkap sehingga data sejarah yang dapat diketahui sangat sedikit.
Setelah Sri Walaprabhu, yang naik takhta kerajaan Bali adalah Paduka Sri Maharaja Sri Sakalendukirana Isana Gunadharma Laksmidhara Wijayotunggadewi. Gelar ini terbaca dalam prasasti-prasasti : Pengotan B I (1010 Saka), dan Pengotan B II (1023 Saka). 23
Goris, dalam membahas gelar yang cukup panjang itu, mengemukakan hal-hal berikut.

1. Indukirana = cahaya bulan purnama
2. Guna-dharmma = turunan dari Gunapriyadharmapatni, yakni ibu Airlangga
3. Hendak mengaku Wijaya = turunan raja Palembang (Sri Wijaya), dan
4. Hendak mengaku Uttungga, yakni turunan raja Sindok di Jawa Timur (1948 : 10).

Tampaknya, Goris hendak menyatakan bahwa sejumlah unsur gelar itu secara implisit mengandung muatan politis, khususnya yang dikemukakan dalam tiga butir terakhir. Konsep dasar jalan pikiran Goris kiranya dapat diterima, tetapi secara operasional menghubungkan unsur wijaya dengan kerajaan Sriwijaya di Palembang, sebagaimana dinyatakan dalam butir ketiga, sepantasnya mendapat pertimbangan lebih cermat. Ada dua hal akan diajukan sebagai bahan pertimbangan, yang serta merta menunjukkan kekurangkuatan hipotesis Goris itu.
Pertama, sampai kini belum terdapat bukti jelas mengenai hubungan politik kerajaan Bali Kuno dengan Sriwijaya di Sumatra. Kedua, seperti telah diketahui, unsur Sriwijaya digunakan pula dalam gelar Ratu Sri Wijaya Mahadewi. Stein Callenfels, yang menghubungkan ratu ini dengan kerajaan Sriwijaya, telah dibantah oleh Damais. Dengan alasan yang tepat, Damais mengidentifikasikan bahwa ratu ini adalah putri dari Jawa Timur (1952 : 85-86). Sejalan dengan pendapat Damais itu, dengan mengesampingkan pendapatnya yang menjurus kepada penyamaan dengan putri Sindok serta ditunjang isi butir kedua dan keempat kutipan di depan, maka Sakalendukirana pun tidak perlu dihubungkan dengan kerajaan Sriwijaya tetapi dengan keluarga besar dinasti Isana di Jawa Timur.
Salah satu kebijakan Ratu Sakalendukirana ialah memberikan prasasti kepada pejabat Nayakanjalan. Prasasti itu diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman pelaksanaan tugas dan kewajiban oleh penduduk di bawah kewenangan pejabat tersebut. Sejumlah rincian ketetapan tercantum di dalam prasasti itu, misalnya mengenai drwyahaji untuk samgat surih, upacara yang dilaksanakan pada waktu bulan mati (pjah lek), dan iuran untuk keperluan upacara besar (mahabanten).
Ratu Sakalendukirana diganti oleh Paduka Sri Maharaja Sri Suradhipa. Baginda berkuasa tahun 1037 : 1041 Saka (1115-1119) dengan mengeluarkan prasasti-prasasti Gobleg, Pura Desa III (1037 Saka), Angsari B (1041 Saka), Ababi, Tengkulak D dan Prasasti Tamblingan, Pura Endek III.24 Sebagian di antara prasasti-prasasti itu sudah aus dan tidak terbaca lagi.
Berdasarkan permohonan wakil-wakil pamong dharma (sejenis bangunan suci) di Air Tabar dapat diketahui bahwa raja memberikan izin kepada mereka memperbaharui (umanari) prasastinya. Izin itu diberikan karena prasasti semula yang tertulis pada daun rontal (ripta) telah rusak dan tidak terbaca lagi (awuk munggwing ripta tan wnang winaca). Selanjutnya, raja menekankan supaya isi prasasti itu dipatuhi oleh segenap penduduk sebagaimana mestinya. Semua hal itu disebutkan dalam prasasti Gobleg, Pura Desa III.
Pada tahun 1041 Saka, sesuai dengan isi pokok prasasti Angsari B, raja Suradhipa memberikan prasasti kepada dharma di Sukhamerta yang termasuk wilayah desa Latengan. Segala ketetapan yang tercantum di dalamnya supaya ditaati oleh penyelenggara pertapaan di kompleks dharma di Sukhamerta. Pertapaan ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Tabanendra Warmadewa.
Setelah berakhir masa pemerintahan raja Suradhipa, secara beruntun memerintah di Bali empat orang raja yang menggunakan unsur jaya dalam gelarnya, yaitu (1) Paduka Sri Maharaja Sri Jayasakti tahun 1055-1072 Saka (1133-1150), (2) Paduka Sri Maharaja Sri Ragajaya tahun 1077 Saka (1155), (3) Paduka Sri Maharaja Haji Jayapangus tahun 1099-1103 Saka (1178-1181), dan (4) Paduka Sri Maharaja Haji Ekajayalancana beserta ibunya yaitu Paduka Sri Maharaja Sri Arjaryya Dengjayaketana yang mengeluarkan prasastinya pada tahun 1122 Saka (1200). Birokrasi pemerintahan keempat raja inilah yang akan dibahas dalam karya tulis ini. Berdasarkan hal itu maka uraian mengenai aktivitas atau kebijakan yang dilaksanakan oleh raja-raja tersebut tidak diperpanjang pada bagian ini.
Hubungan kekeluargaan di antara mereka tidak diketahui secara pasti. Walaupun demikian, berdasarkan kelaziman dalam sistem pergantian kepala negara suatu kerajaan tradisional serta digunakannya unsur jaya dalam gelar masing-masing raja itu maka kemungkinan besar hubungan antara raja yang satu dan penggantinya merupakan hubungan ayah dengan anaknya. Kalau tidak demikian, paling tidak mereka dipertalikan oleh hubungan kekeluargaan yang sangat dekat.
Perlu diperhatikan bahwa masa pemerintahan keempat raja itu hampir sezaman dengan masa pemerintahan raja-raja Jayabhaya (1057 -1079 Saka), Sarweswara (1081 Saka), Aryeswara (1091-1093 Saka), Kroncaryadhipa atau Gandra (1103 Saka), Kameswara (1104-1107 Saka), dan Kertajaya atau Srengga (1116-1127 Saka) di kerajaan Kadiri di Jawa Timur (cf. Damais, 1952 : 66-71 ; Sumadio dkk., 1990 : 267-272, 306). Hal yang menarik perhatian pula, sebagaimana telah dikatakan, ialah adanya unsur jaya digunakan pada keempat gelar raja Bali Kuno dan paling sedikit pada dua nama raja Kadiri tersebut di atas. Adanya unsur yang sama itu rupanya bukan semata-mata bersifat kebetulan tetapi juga menunjukkan adanya hubungan kekerabatan di antara mereka. Kemungkinan adanya hubungan kekerabatan di antara mereka diperkuat oleh keterangan dalam kitab Bharatayuddha. Dalam kitab itu dikatakan bahwa raja Jayabhaya sempat meluaskan kekuasaannya ke Indonesia bagian timur dan tidak ada pulau yang sanggup mempertahankan diri dari kekuasaan Jayabhaya (Krom, 1956 :154-155 ; Warna dkk., 1990 : 2-3).
Sejak berakhirnya kekuasaan Ekajayalancana sampai dengan akhir masa Bali Kuno, masih terjadi lima kali pergantian raja. Secara berturut-turut dinobatkan Sri Wirama (1126 Saka), Adidewalancana (1182 Saka), Sri Mahaguru (1246-1247 Saka), Walajayakrrttaningrat (1250 Saka), dan Sri Astasura Ratnabhumibanten (1259-1265 Saka).
Sri Wirama, lengkapnya Bhatara Parameswara Sri Wirama tercantum dalam prasasti Bangli, Pura Kehen C (1126 Saka) (Stein Callenfels, 1926 : 56-59). Dalam prasasti itu disebutkan tiga tokoh historis sebagai berikut.

1. Bhatara Guru Sri Adikuntitekata, yakni permaisuri raja yang telah almarhum. Goris juga menyebut tokoh ini dengan Bhatara Guru I (1965 : 43).
2. Bhatara Parameswara Sri Wirama, yang juga disebut Sri Bhanadhirajalancana, putra (wija) Sri Adikuntiketana.
3. Bhatara Sri Dhanadewiketu, yaitu permaisuri (rajawanita) Sri Dhanadhirajalancana.

Berdasarkan keterangan dalam butir ketiga, khususnya kata rajawanita, yang digunakan untuk menyebut istri Sri Wirama, maka berarti raja yang sesungguhnya adalah Bhatara Parameswara Sri Wirama. Kendati demikian, yang bertitah langsung kepada penduduk adalah Sri Adikuntiketana (Stein Callenfels, 1926 : 56). Titah tu disampaikan kepada wakil-wakil desa Bangli (karaman i bangli) sewilayah desanya, agar mereka tidak mengungsi lagi ke desa lain. Sebaliknya, mereka diperintahkan supaya kembali ke desanya serta menyelenggarakan asrama (mandala) Lokasarana yang sempat sepi dan tidak terurus. Dalam prasasti itu dicantumkan pula aturan tentang hak dan kewajiban yang harus dipatuhi oleh penduduk Bangli.
Antara Raja Sri Wirama (1126 Saka) dan raja berikutnya, yaitu Bhatara Parameswara Hyang ning Hyang Adidewalancana (1182 Saka) terdapat masa kosong (power vacuum) selama tidak kurang dari 56 tahun. Belum terdapat petunjuk yang jelas mengapa hal itu terjadi.
Tidak banyak dapat dikemukakan mengenai raja Adidewalancana. Baginda mengeluarkan sebuah prasasti, yaitu prasastiBulihan B (1182 Saka), yang dianugrahkan kepada wakil-wakil desa Bulihan (karaman i bulihan) (Goris, 1954a : 41-42). Selain itu beliau juga mengeluarkan prasasti Pangsan yang dianugrahkan kepada pariman i nungnung.
Setelah masa pemerintahan raja Adidewalancana, terdapat lagi masa tanpa raja selama lebih kurang 64 tahun, yakni tahun 1182-1246 Saka (1260-1324). Pada periode itu terbit hanya dua buah prasasti, yaitu prasasti Pengotan E (1218 Saka) dan Sukawana D (1222 Saka), atas nama Kbo Parud (putra Ken Demung Sasabungalan). Tokoh itu berkedudukan sebagai rajapatih, bukan sebagai raja (Goris, 1948 : 11 ; 1954a : 42). Keadaan ini kemungkinan besar ada kaitannya dengan keterangan yang dapat disimak 32 dari isi pupuh 42 bait 1 kitab Nagarakrtagama. Di sana dikatakan bahwa pada tahun 1206 Saka (1284) Raja Krtanagara (dari Singhasari) berhasil menaklukkan Bali serta menawan raja-raja Bali (Pigeaud, 1960a : 32 ; 1960b : 48 ; Slametmulyana, 1979, 294). Dalam sumber itu tidak disebutkan nama atau gelar raja Bali yang ditawan. Dengan alasan yang kurang jelas, Ginarsa menduga bahwa raja itu adalah Adidewalancana (1968 : 27). Dugaan itu akan menjadi benar apabila raja itu memerintah paling sedikit selama 24 tahun setelah menerbitkan prasastinya yang berangka tahun 1182 Saka (1260).
Kedudukan Kbo Parud sebagai rajapatih boleh jadi berlangsug sampai setelah Krtanagara dikalahkan oleh Raja Jayakatwang dari Kadiri, bahkan mungkin sampai pada masa-masa awal kerajaan Majapahit. Kedudukannya itu tampaknya baru berakhir setelah Bhatara Guru II (Bhatara Sri Mahaguru) dinobatkan sebagai raja di Bali pada tahun 1256 Saka (1324), atau beberapa tahun sebelum penobatan itu. Hal ini sekaligus menyatakan bahwa Bali selama itu berada di bawah pengawasan kerajaan yang tengah berkuasa di Jawa Timur.
Identifikasi Raja Bhatara Guru II atau Bhatara Sri Mahaguru sesungguhnya masih mengandung permasalahan. Ada tiga buah prasasti dikeluarkan oleh raja itu, tetapi memuat gelarnya secara tidak konsisten. Dalam prasasti Srokadan (1246 Saka)25 baginda disebut Paduka Bhatara Guru yang memerintah bersama-sama dengan cucunya (putunira), yakni Paduka Aji (baca : Haji) Sri Tarunajaya. Dalam prasasti Cempaga C (1246 Saka) disebut dengan gelar Paduka Bhatara Sri Mahaguru (Stein Callenfels, 1926 : 50). Dan dalam prasasti Tumbu (1247 Saka) disebut Paduka Sri Maharaja, Sri Bhatara Mahaguru, Dharmmotungga Warmadewa (baca : Paduka Sri Maharaja Sri Bhatara Mahaguru Dharmottungga Warmadewa) (Goris, 1965 : 45).
Bhatara Guru II rupanya mangkat sebelum tahun 1250 Saka (1328). Dugaan itu dikemukakan karena pada tahun 1250 Saka, sebagaimana tertera dalam prasasti Selumbug (Stein Callenfels, 1926 : 68-70), yang memerintah di Bali adalah Paduka Bhatara Sri Walajayakrtaningrat. Raja ini memerintah bersama-sama dengan atau dibantu oleh ibunya yang bergelar Paduka Tara Sri Mahaguru. Mengingat kata tara (baca : tara) dapat berarti ”janda atau duda”, di samping juga berarti ”suami atau istri” (Damais, 1959 : 690), maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Paduka Tara Sri Mahaguru kemungkinan besar adalah janda almarhum Bhatara Guru II.
Selain itu, kiranya dapat disepakati bahwa kata tarunajaya pada hakikatnya bermakna sama dengan walajaya. Kendatipun demikian, masih diperlukan kehati-hatian sebelum menyamakan tokoh Tarunajaya dalam prasasti Srokadan dengan Walajayakrtaningrat dalam prasasti Selumbung. Kehati-hatian itu diperlukan karena Tarunaja dikatakan sebagai cucuk sang suami (yaitu Bhatara Guru II) dan Walajayakrtaningrat dikatakan sebagai putra sang permaisuri (yaitu paduka Tara Sri Mahaguru). Pernyataan terakhir ini menjadi lebih kuat, jika Bhatara Guru II dan Paduka Tara Sri Mahaguru pada mulanya memang merupakan pasangan suami-istri.
Atas dasar gambaran yang telah disajikan, dengan singkat dapat dikatakan bahwa bagaimanapun juga hubungan kekeluargaan mereka berdua belum dapat dijelaskan secara meyakinkan. Sumber-sumber sejarah yang muncul pada masa-masa mendatang diharapkan dapat menerangkan hal itu.
Dari prasasti Selumbung yang telah disebutkan, dapat diketahui bahwa Raja Walajayakrtaningrat beserta ibunya memberikan anugrah prasasti kepada tetua desa Salumbung (karaman ing salumbung). Dalam prasasti itu ditetapkan pelbagai kewajiban yang harus ditunaikan oleh penduduk bagi bangunan suci Sang Hyang Candri ring Linggabhawana. Penganugerahan prasasti itu disaksikan pula oleh para pejabat tinggi kerajaan.
Raja Walajayakrttaningrat dan ibunya digantikan oleh Paduka Bhatara Sri Astasura Ratnabumibanten (baca : Paduka Bhatara Sri Astasura Ratnabhumibanten). Gelar ini terbaca dalam prasasti Langgahan yang berangka tahun 1259 Saka (Goris, 1954a : 44 ; Damais, 1955 : 99). Prasasti ini mencatat bahwa pada tahun 1259 Saka raja menetapkan pelbagai drwyahaji yang mesti dibayar oleh penduduk di wilayah pertapaan Langgaran. Batas-batas wilayah pertapaan dan pejabat-pejabat tinggi kerajaan yang menyaksikan penganugerahan prasasti itu disebutkan pula di dalamnya. Pada bagian akhir prasasti terdapat sumpah kutukan (sapatha) yang pada intinya mengharapkan agar orang-orang yang melanggar ketetapan dalam prasasti itu mendapat mala petaka setimpal.
Dapat ditambahkan bahwa di Pura Tegeh Koripan (di puncak Gunung Penulisan) tersimpan sebuah arca yang bagian belakang arca itu terdapat prasasti yang terdiri atas sembilan baris tulisan dan keadaannya telah sangat aus. Pada baris ke delapan terdapat bagian yang berbunyi ”…t (asu) raratnabumi…” (Stutterheim, 1929 : 79). Belakangan, Damais membaca bagian itu sebagai berbunyi ”(–)—stasura ratnabumi banta,…”(1955 : 129) dan Goris membaca astasura-ratna bumi-banten (1954a : 44). Di atas prasasti terdapat candra sangkala berupa empat gambar, yakni paling depan tidak jelas karena sudah pecah, berikutnya gambar mata (dengan nilai 2), puluhannya parasu (kapak) yang bernilai 5, dan terakhir tidak terang, mungkin gunung (bernilai 7) atau laut (bernilai 4). Berdasarkan data itu, maka angka tahun prasasti tersebut mungkin 1254 atau 1257 Saka (Stutterheim, 1929 : 79). Di pihak lain, menurut perhitungan yang diterapkannya, Damais berpendapat bahwa prasasti itu berangka tahun 1352 Saka (1439) (1955 : 129-130). Jika arca tempat prasasti itu berangka tahun 1352 Saka (1430) (1955 : 129-130). Jika arca tempat prasasti itu ditulis adalah arca perwujudan Astasura Ratnabhumibanten, yang dibuat sekitar upacara sraddha-nya, maka pendapat Damais lebih beralasan.
Enam tahun setelah Astasura Ratnabhumibanten mengeluarkan prasasti Langgahan (1259 Saka), yakni pada tahun 1265 Saka (1343) ekspedisi tentara Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada menyerang Bali. Penyerangan itu berhasil menaklukkan Bali. Goris menyatakan bahwa dengan takluknya Bali kepada Majapahit maka berakhirlah kerajaan Bali Kuno yang merdeka (1965 : 47).
Kontak perang antara Bali dan Majapahit agaknya didahului dengan suasana tidak harmonis. Betapa tidak senangnya pihak Majapahit terhadap raja Bali dapat diketahui dari hasil goresan pena Mpu Prapanca dalam kitab Nagarakrtagama. Pupuh 49 bait 4 kitab itu menggambarkan sebagai berikut :
”muwah rin sakabdesu masaksi nabhbhi,
Ikan bali nathanya dussila niccha
Dinon in bala bhrasta sakweh nasa
Ars salwir i dusta mandoh wisathta,”
(Pigeaud, 1960a : 36).
Artinya :
”Selanjutnya pada tahun Saka panah-musim-mata-pusat (1265 Saka), kepada raja Bali yang rendah budi dan hina dina dikirimlah tentara untuk membasmi, hancurlah semuanya, ketakutan semua penjahat (lalu) lari menjauh (cf. Slametmulyana, 1979 : 297 ; Pigeaud, 1960c : 54).

KERAJAAN BALI AGA DAN MOJOPAHIT
Kerajaan Bali Aga di Jaman pemerintahan SRI RATNA BUMI BANTEN, yang memerintah ditahun 143 Masehi dibedahulu terkenal dengan Raja Bedhahulu, Beliau masih keturunan Raja Daha.
Sri Asura Ratna Bumi Banten tidak mau tunduk dengan kerajaan Mojopahit dimana pada waktu kerajaan Mojopahit dipimpin oleh seorang Raja Putri bernama Tri Buwana Tungga Dewi dengan patih utamanya Aditya Warman bergelar Arya Damar dan ditemani Patih Gajah Mada.
Karena keberaniannya beliau menentang kehendak Mojopahit itu menyebabkan Gajah Mada tak berani gegabah menghadapi Raja Bali ini. Disamping itu Gajah Mada telah mendengar bahwa diBali banyak terdapat tokoh – tokoh sakti dan amat tangguh yang menjadi tulang punggung kekuatan kerajaan Sri Asura Ratna Bumi Banten itu.
Tokoh – tokoh yang paling ditakuti oleh Gajah Mada adalah :
Ki Kebo Iwa, Ki Pasung Grigis : yang menjabat sebagai mangku bumi kerajaan Bali Aga, memang kesaktian para tokoh tersebut sudah sangat tersohor kepelosok negri, belum lagi beliau didukung oleh sederetan orang – orang sakti seperti :
Ki Tunjung Biru, Tunjung Tutur dan tokoh lainnya.
Olehkarena keperkasaan beliau inilah menyebabkan ki Patih Gajah Mada berpikir berat mencari siasat bagaimana caranya untuk menundukan Bali Aga menjadi dibawah kekuasaan kerajaan Mojopahit.
SUDAH BERAPA KALI DIADAKANRAPAT PIMPINAN DIDALAM KERAJAAN KHUSUS MEMBAHAS TENTANG Bali Aga, tetap belum ada yang dapat memecahkan permasalahan yang memang sangat rumit ini.
Tidak sedikit yang telah disumbangkan oleh para panglima perang dan ahli politik Majapahit itu guna bias menundukan bali Aga, tetap saja belum dapat terpecahkan, karena bukan sembarang musuh yang dihadapinya. Mereka serba sempurna dalam tata pemerintahan, angkatan perang, kekuatan prajurit yang tak terhitung disamping kesiapan Kerajaan Bali Aga dalam keadaan siap perang. Kalau ada gangguan musuh dari luar Bali.
Babad Bendesa Mas secara Ringkas
PANCA PANDITA
Mpu Geni Jaya beserta adik-adiknya Mpu Semeru, Mpu Kuturan, Mpu Pradah dan Mpu Gana merupakan panca pandita dari India yang pada suatu ketika menghadap Raja Airlangga di Kediri. Kedatangan mereka ke Indonesia adalah terutama untuk membina pulau Bali atas perintah Bhatara Paçupati. Yang meneruskan perjalanan ke Bali adalah:
1. Mpu Semeru menetap di Besakih.
2. Mpu Gana di Dasar Bhuwana, Gelgel.
3. Mpu Kuturan di Çilayukti, Padang.
Yang tinggal di Jawa adalah:
1. Mpu Pradah di Pajarakan, Kediri dan
2. Mpu Genijaya.
MPU GENI JAYA (1157)
Mpu Geni jaya mempunyai 7 putera (Sapta Pandita) yang tinggal di Kuntuliku, Jawa Timur. Dalam tahun 1157 Mpu Geni jaya pergi ke Bali untuk mengunjungi adik-adiknya lalu menetap di gunung Lempuyang.
Gajah Waktra (1337 – 1343) Raja Bali, Gajah Waktra beserta pepatihnya Kebo Iwa dan Pasung Gerigis memerintah Bali selama 1337 – 1343. Kemudian Bali di serang dan di taklukan oleh patih Gajah Mada dari Mojopahit. Selesai perang, Mpu Jiwaksara yaitu generasi ke-6 dari Mpu Geni jaya diangkat menjadi puncuk pimpinan pemerintahan Mojopahit di Bali dengan gelar Patih Wulung. Ayahnya Mpu Wijaksana juga ikut ke Bali dan merupakan pendeta pertama dari Mojopahit yang mengatur tata keagamaan di Bali setelah Bali jatuh ke tangan Mojopahit.
PATIH WULUNG (1350)
Pada tahun 1350 Patih Wulung berangkat ke Mojopahit untuk memberi laporan kepada ratu Mojopahit Tri Buana Tunggal Dewi tentang keadaan di Bali dan sekaligus mohon supaya cepat di angkat seorang raja di Bali sebagai wakil pemerintahan Mojopahit.
Akhirnya diangkatlah salah satu putra dari Danghyang Kepakisan, yaitu Dalem Ketut Kresna Kepakisan menjadi raja di Bali, berkedudukan di Samplangan kemudian di Gelgel.
Berselang beberapa tahun, Sri Kresna Kepakisan ingin mempersatukan Blambangan dan Pasuruan yang dikuasai sang kakak, yaitu Dalem Wayan dan Dalem Made dengan kerajaan Bali. Penyerangan dilakukan ke Pasuruan dibawah pimpinan Patih Wulung. Sri Kresna Kepakisan berpesan agar sang kakak jangan sampai di bunuh. Namun dalam perang tanding antara Patih Wulung dan Dalem Pasuruan, yang terakhir ini terkena senjata Patih Wulung lalu gugur.
Setelah patih Wulung dengan pasukannya kembali ke Bali dan melaporkan jalannya peperangan yang berakhir dengan gugurnya Dalem Pasuruan, Sri Kresna Kepakisan menjadi sangat marah lantaran Patih Wulung telah melanggar pesannya sebagai tersebut di atas. Patih Wulung diusir dari gelgel setelah dibekali beberapa sikut tanah dan beberapa ratus prajurit. Di samping itu juga diberi gelar Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas. Patih Wulung pindah ke Bali Tengah yang kemudian disebut Bumi Mas kira-kira dalam tahun 1358.
Ki Patih Wulung atau Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas mempunyai 2 putra, yaitu:
Putra pertama adalah Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas (II) yang menetap di Desa Mas dan menurunkan:
a. Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas (III),
b. Gusti Luh Made Manik Mas,
c. Gusti Luh Nyoman Manik Mas Genitri, yang kemudian diperistri oleh Danghyang Nirartha.
Nama Bendesa Mas tetap tercantum sebagai pengenal garis keturunan. Dari sinilah menurun para Bendesa Mas yang tersebar di seluruh Bali antara lain di Gading Wani.
Putra kedua dari Patih Wulung adalah Kiyai Gusti Pangeran Semaranata, menetap di Gelgel dan menurunkan Gusti Rare Angon, leluhur dari Kiyai Agung Pasek Gelgel. Istilah Pasek berasal dari istilah kata pacek yang berarti pejabat. Semua pegawai kerajaan dari Perdana Menteri, Panglima Perang, Prajurit dan pegawai lainnya adalah pejabat.

DANGHYANG NIRARTHA (1489)
Di zaman Dalem Watu Renggong (1460 – 1550) datanglah ke Bali Danghyang Nirartha atau Pedanda Sakti Wawu Rauh dalam tahun 1489 lalu diangkat menjadi Bagawantha kerajaan.
Danghyang Nirartha adalah putra dari Danghyang Semara Natha yang bersama-sama pindah dari Mojopahit ke Daha, karena Mojopahit telah jatuh ke tangan Islam dalam tahun 1474. Islam kemudian juga merambat ke Kediri dan oleh karena itu Danghyang Nirartha pergi bersama kedua putra putrinya yang masih kecil, yaitu Ida Suwabawa (wanita) dan Ida Kulwan (laki) ke Pasuruan.
Di sini beliau menikah lagi dengan seorang putri Pasuruan yang melahirkan: 1. Ida Lor atau Ida Manuaba dan 2. Ida Wetan.
Dari Pasuruan Danghyang Nirartha pindah lagi ke Belambangan di mana beliau menikah dengan adiknya Dalem Blambangan yang bernama Patni Keniten Saraswati dan melahirkan: 1. Ida Selaga atau Ender, 2. Ida Keniten, 3. Ida Nyoman Stri Rai (wanita).
Timbul keributan di istana Blambangan lantaran istrinya dalem jatuh cinta pada Mpu Nirartha dan Dalem menuduh Nirartha mengguna-gunai sang permaisuri. Akhirnya Nirartha diusir dari Blambangan. Disertai ketujuh putra putrinya dan sang istri Patni Keniten Saraswati, beliau menyeberang ke Bali dan turun di pelabuhan Purancak.
Perjalanan dilanjutkan ke arah timur dan suatu ketika rombongan sampai di Desa Gading Wani, yang penduduknya kebetulan ditimpa penyakit sampar. Kedatangan Danghyang Nirartha disambut oleh Ki Bendesa Gading Wani dengan ramah dan memohon kepada beliau agar sudi menolong mengobati mereka yang sedang sakit. Berkat kesaktian Danghyang Nirartha berhasil menyembuhkan rakyat Gading Wani dan sejak itu beliau disebut pula Pedanda Sakti Wawu Rauh. Sebagai tanda bakti Ki Bendesa Gading Wani mempersembahkan kepada beliau seorang putrinya bernama Ni Luh Petapan untuk di jadikan pelayan.
Nama Danghyang Nirartha makin terkenal di Bali dan oleh karena itu Ki Pangeran Bendesa Manik Mas mengundang beliau untuk datang ke Bumi Mas, lebih-lebih setelah diketahui, bahwa mereka masih saudara sepupu. Di Bumi Mas, Danghyang Nirartha dibuatkan oleh Ki Pangeran Bendesa Manik Mas sebuah pasraman dan sebuah permandian.
Setelah cukup lama tinggal di Mas, Kiyai Pangeran Bendesa Manik Mas mempersembahkan putrinya Gusti Nyoman Manik Mas Genitri kepada Danghyang Nirartha untuk di jadikan istri. Dari perkawinan ini lahirlah seorang putra yang diberi nama Ida Bokcabe. Ni Berit putri yang dibawa dari Melanting-Pulaki dan Luh Petapan putri dari Ki Bendesa Gading Wani akhirnya dikawini pula dan dari yang pertama lahir Ida Andapan sedangkan dari yang kedua lahir Ida Petapan.

BUMI MAS DISERANG SUKAWATI (1750)
Kira-kira dalam tahun 1750 Bumi Mas diserang oleh Kerajaan Sukawati, oleh karena Pangeran Bendesa Manik Mas tidak mau menyerahkan pusaka-pusakanya kepada Dalem Sukawati. Barang-barang pusaka dimaksud adalah pusaka leluhur Mojopahit yang dahulu diberikan oleh Ratu Mojopahit dan Patih Gajah Mada kepada Ki Patih Wulung sebagai penguasa Bali Aga Mojopahit. Pusaka itu terdiri dari keris, mahkota dan sebuah permata yang sangat dimuliakan bernama Menawa Ratna.
Penolakan Pangeran Bendesa Mas tersebut berdasarkan sebuah prasasti yang dahulu di keluarkan oleh Dalem Kresna Kepakisan (leluhur Dalem Sukawati) kepada Ki Patih Wulung, sewaktu patih ini diusir dari Gelgel ke Bumi Mas. Dalam prasasti ini antara lain di muat: “Kekayaan, harta benda, pusaka-pusaka dan lain-lain yang menjadi milik Bendesa Mas tidak boleh diambil atau dijarah/dikuasi untuk kerajan”.
Dalem Sukawati tidak mengindahkan atau tidak memahami isi wisama ini, lalu Bumi Mas diserang dengan pasukan besar yang mengakibatkan terbunuhnya Sang Pangeran Bendesa Mas dan keluarganya menghilang dari Bumi Mas termasuk keluarga Brahmana Mas. Keluarga Bendesa Mas menjadi cerai berai dan mengungsi kesegala plosok pulau Bali, juga ke Gading Wani.

PENUTUP
Berdasarkan babad tersebut di atas, maka Pura Kawitan para Bendesa Mas adalah Pura Lempuyang Madia, bekas parhyangan Mpu Genijaya. Di samping itu pula nyungsung ke Pura Gading Wani (Lalanglinggah) dan Pura Taman Pule (Mas). Juga Pura Çilayukti (Padang) dan Pura Dasar Bhuwana (Gelgel) tidak boleh dilupakan. Waktu di pura Besakih dibangun sebuah pelinggih untuk memuja arwah suci Danghyang Nirartha, di sebelah timurnya didirikan pula pelinggih untuk Bendesa Mas. Namun demikian lelintihan/asal-usul dan hukum kepurusa, para Bendesa Mas patut nyungsung pula pura pedharman di komplek pura Besakih, yaitu Pura Ratu Pasek.

May 27, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.